Laporan Kebencanaan Geologi 04 Setpember 2018 (06:00 Wib)

I. SUMMARY:

Hari ini, Selasa 4 September 2018, Bencana Geologi yang terjadi sbb:

1. Gunung Api

G. Sinabung (Sumatera Utara):
Tingkat aktivitas Level IV (AWAS). G. Sinabung (2460 m dpl) mengalami erupsi menerus sejak tahun 2013.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut, teramati asap kawah berwarna putih, bertekanan lemah dan intensitas tipis hingga tebal setinggi 200 m di atas puncak. Angin bertiup lemah hingga kencang ke arah timurlaut dan baratdaya.
Melalui rekaman seismograf pada 3 September 2018 tercatat:- 24 kali gempa Hembusan- 1 kali gempa Tektonik Lokal- 2 kali gempa Tektonik Jauh
Bendungan di Sungai Laborus terbentuk akibat penumpukan endapan awan panas masih berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol.
Rekomendasi:- Masyarakat/pengunjung agar tidak melakukan aktivitas di dalam radius 3 km untuk sektor Utara - Barat, 4 km untuk sektor Selatan - Barat, dan dalam jarak 7 km untuk sektor Selatan - Tenggara, didalam jarak 6 km untuk sektor Tenggara - Timur serta didalam jarak  4 km untuk sektor Utara -Timur- Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.
VONA:VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 22 Juni 2018 pukul 09:06 WIB, terkait letusan dengan ketinggian kolom abu sekitar 3460 m di atas permukaan laut atau sekitar 1000 m di atas puncak, angin bertiup ke arah barat-selatan.

G. Agung (Bali):
Tingkat aktivitas Level III (Siaga). G. Agung (3142 m dpl) mengalami erupsi sejak 21 November 2017.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut, asap kawah teramati berwarna putih dengan intensitas tipis setinggi 50 m di atas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah timur dan barat.
Rekaman seismograf tanggal 3 September 2018 tercatat:- 4 kali gempa Hembusan- 1 kali gempa Vulkanik Dalam- 26 kali gempa Tektonik Jauh 
Tanggal 4 September 2018 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat:- 2 kali gempa Hembusan- 1 kali gempa Vulkanik Dangkal- 15 kali gempa Tektonik Jauh
Rekomendasi:- Masyarakat di sekitar G. Agung dan pendaki/pengunjung/wisatawan agar tidak berada, tidak melakukan pendakiaan tidak melakukan aktivitas apapun di Zona Perkiraan Bahaya yaitu di seluruh area di dalam radius 4 km dari Kawah Puncak G. Agung.- Zona Perkiraan Bahaya sifatnya dinamis dan terus dievaluasi dan dapat diubah sewaktu-waktu mengikuti perkembangan data pengamatan G. Agung yang paling aktual/terbaru.- Masyarakat yang bermukim dan beraktivitas di sekitar aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar hujan yang dapat terjadi terutama pada musim hujan dan jika material erupsi masih terpapar di area puncak. Area landaan aliran lahar hujanmengikuti aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung.- Status Level III (Siaga) hanya berlaku di dalam radius 4 km seperti tersebut di atas, di luar area tersebut aktivitas dapat berjalan normal dan masih tetap aman, namun harus tetap menjaga kewaspadaan.
VONA:VONA terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 27 Juli 2018 pukul 14:27 WITA, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu 5142 m di atas permukaan laut atau sekitar 2000 m di atas puncak, angin bertiup ke arah barat.

G. Krakatau (Lampung).
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). G. Krakatau (305 m dpl) mengalami peningkatan aktivitas vulkanik sejak 18 Juni 2018.
Dari kemarin hingga pagi ini, secara visual gunungapi tertutup Kabut. Angin lemah ke arah utara dan barat. Asap kawah tidak teramati.
Melalui seismograf tanggal 3 September 2018 tercatat:- 228 kali gempa Letusan- 62 kali gempa Hembusan- 1 kali gempa Vulkanik Dalam- Tremor menerus dengan amplitudo maksimum 3-43 mm (dominan 15 mm)
Rekomendasi:Masyarakat/wisatawan tidak diperbolehkan mendekati kawah dalam radius 1 km dari kawah.
VONA:VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 23 Agustus 2018 pukul 18:07 WIB, terkait dengan adanya letusan yang terekam seismogram dengan amplitudo maksimum 27 mm dengan durasi sekitar 31 detik. Ketinggian kolom letusan sekitar 1005 m di atas permukaan laut atau 700 m di atas puncak. Kolom abu bergerak mengarah ke timur laut.

G. Merapi (Jawa Tengah - Yogyakarta):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Merapi (2968 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih tipis setinggi 20 m di atas puncak. Angin bertiup lemah ke arah tenggara dan baratlaut.
Melalui rekaman seismograf pada 3 September 2018 tercatat:- 34 kali gempa Guguran- 18 kali gempa Hembusan- 9 kali gempa Hybrid- 1 kali gempa Tektonik Lokal- 1 kali gempa Tektonik Jauh
Rekomendasi :- Kegiatan pendakian G. Merapi untuk sementara tidak direkomendasikan kecuali untuk kepentingan penyelidikan dan penelitian berkaitan dengan upaya mitigasi bencana.- Radius 3 km dari puncak agar dikosongkan dari aktivitas penduduk.- Masyarakat yang tinggal di KRB III mohon meningkatkan kewaspadaan terhadap aktivitas G. Merapi. - Jika terjadi perubahan aktivitas G. Merapi yang signifikan maka status aktivitas G. Merapi akan segara ditinjau kembali.- Masyarakat agar tidak terpancing isu-isu mengenai erupsi G. Merapi yang tidak jelas sumbernya dan tetap mengikuti arahan aparat pemerintah daerah atau menanyakan langsung ke Pos Pengamatan G. Merapi terdekat melalui radio komunikasi pada frekuensi 165.075 MHz melalui website www.merapi.bgl.esdm.go.id, media sosial BPPTKG, atau ke kantor BPPTKG, Jalan Cendana No. 15 Yogyakarta, telepon (0274) 514180-514192.- Pemerintah daerah direkomendasikan untuk mensosialisasikan kondisi G. Merapi saat ini kepada masyarakat.
VONA:VONA terakhir terkirim kode warna GREEN, terbit tanggal 3 Juni 2018 pukul 20:39 WIB, terkait dengan adanya aktivitas hembusan asap berwarna putih dengan ketinggian kolom asap setinggi 3768 m di atas permukaan laut atau sekitar 800 m di atas puncak.

G. Dukono (Halmahera):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Dukono (1229 m dpl) mengalami erupsi menerus.
Dari kemarin hingga pagi ini secara visual puncak gunungapi teramati jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah/abu erupsi teramati berwarna putih hingga kelabu, bertekanan lemah dan intensitas tebal setinggi 200- 300 m di atas puncak. Angin bertiup lemah ke arah utara.
Melalui seismograf tanggal 3 September 2018 tercatat:- 1 kali gempa Letusan- 3 kali gempa Tektonik Jauh- Tremor menerus dengan amplitudo maksimum 0.5-28 mm (dominan 4 mm)
Rekomendasi:Masyarakat di sekitar G. Dukono dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati Kawah Malupang Warirang di dalam radius 2 km.
VONA:VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 1 September 2018 pukul 18:18 WIT, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1729 m di atas permukaan laut atau sekitar 500 m di atas puncak. Kolom abu bergerak mengarah ke arah timurlaut - utara.

G. Ibu (Halmahera):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). G. Ibu (1340 m dpl) mengalami erupsi secara menerus sejak tahun 2008.
Dari kemarin hingga pagi ini secara visual puncak gunungapi dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah/abu erupsi teramati berwarna putih hingga kelabu, bertekanan lemah hingga sedang dan intensitas tipis hingga sedang dengan ketinggian 200-500 m di atas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah utara - timur.
Melalui seismograf tanggal 3 September 2018 tercatat:- 94 kali Gempa Letusan- 64 kali Gempa Hembusan- 23 kali Gempa Guguran- 1 kali gempa Tremor Harmonik
Rekomendasi:Masyarakat di sekitar G. Ibu dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati di dalam radius 2 km, dan perluasan sektoral berjarak 3,5 km ke arah bukaan di bagian utara dari kawah aktif G. Ibu.
VONA:VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 24 Agustus 2018 pukul 17:38 WIT terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 2125 m di atas permukaan laut atau sekitar 800 m di atas puncak, kolom abu bergerak mengarah ke selatan.
Untuk Gunungapi status Normal: Agar masyarakat/wisatawan/pendaki tidak bermalam dan berkemah di kawah untuk menghindari potensi ancaman gas beracun.

2. Gerakan Tanah

Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan  September 2018  yang dibandingkan bulan  Agustus 2018,   umumnya potensinya cenderung sedikit mengalsmi peningkatan di sebagian besar wilayah Indonesia utamanya di Jawa dan sebagian Sumatera , Sulawesi , Bali , Nusa tenggara dan Kalimantan.
Gerakan tanah terakhir terjadi : 
1. Kabupaten Brebes, Provinsi Jawa Tengah2. Kota Tangerang Selatan, Provinsi Banten3. Kabupaten Merangin, Provinsi Jambi
Penyebab:  Penyebab gerakan tanah diduga akibat kemiringan lereng yang terjal, kondisi tanah pelapukan yang labil, kondisi geologi,  tata cara penambangan tradisional yang belum mengikuti aturan sistem penambangan yang benar,serta daerahnya rawan longsor dan dipicu oleh curah hujan yang tinggi dengan durasi yang cukup lama di sekitar daerah bencana.
Dampak : Gerakan tanah / tanah longsor   menyebabkan  jlalan Provinsi yang menghubungkan Kecamatan Tonjong, Brebes dan Kecamatan Bumijawa, Tegal amblas dan hanya tersisa setengahnya di Kabupaten Brebes ; Turan jebol  di Kota Tangerang Selatan, Provinsi Banten; 13 orang penambang emas liar hilang  di lokasi penambangan emas liar di Kabupaten Merangin, Provinsi Jambi 
Peta prakiraan potensi gerakan tanah dari Badan Geologi perlu diacu sebagai peringatan dini.  Masyarakat dapat mengunduh melalui www.vsi.esdm.go.id.


II. DETAIL

1. Gunung Api

Dari 127 Gunungapi Aktif di Indonesia, 69 gunung dipantau secara menerus 24 jam/hari. Status saat ini:
a. 1 (satu) gunung api status AWAS/Level IV, yaitu G. Sinabung* (Sumut) sejak 2 Juni 2015.b. 1 (satu) gunung api status SIAGA/Level III, yaitu G. Agung* (Bali) sejak 10 Februari 2018.c. Sebanyak 19 gunung api Status Waspada/Level II (Merapi*, Marapi, Kerinci, Dempo, Krakatau*, Semeru, Bromo, Rinjani, Sangeangapi, Rokatenda, Soputan, Lokon, Karangetang, Gamalama, Gamkonara, Ibu*, Dukono*, Lewotolok dan Banda Api);d. Sisanya 48 gunung api: Status NORMAL/Level I.

Gunungapi Sinabung (Sumatera Utara).
Kegiatan Gunungapi Sinabung Sumatera Utara yang merupakan salah satu gunungapi paling aktif di Indonesia saat ini, kegiatan erupsi masih berlangsung sejak Tahun 2013. Statusnya saat ini adalah Level IV (Awas).
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut, teramati asap kawah berwarna putih, bertekanan lemah dan intensitas tipis hingga tebal setinggi 200 m di atas puncak. Angin bertiup lemah hingga kencang ke arah timurlaut dan baratdaya.
Melalui rekaman seismograf pada 3 September 2018 tercatat:- 24 kali gempa Hembusan- 1 kali gempa Tektonik Lokal- 2 kali gempa Tektonik Jauh
Terjadi pembendungan Sungai Laborus oleh endapan awan panas sejak tanggal 10 April 2017 yang lalu meluncur sejauh 3,5 km dan luncuran awan panas Tanggal 02-03 Agustus 2017 sejauh 4,5 km ke lereng Tenggara dan Timur mencapai Sungai Laborus. Pemeriksaan terakhir tanggal 28 Agustus 2018 tidak memperlihatkan perubahan yang signifikan dibanding  hasil pengukuran tanggal 28 April 2017 dan pasca luncuran awan panas 02 Agustus 2017 hanya terlihat ada pengikisan sekitar 30 cm dibagian outletnya.
Pembendungan membentuk danau yang berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol karena tidak kuat menahan volume air.
Badan Geologi melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) terus mengirimkan Tim Tanggap Darurat ke Sinabung untuk memperkuat kegiatan pemantauan secara menerus 24 jam per hari, berkoordinasi dengan para pemangku kepentingan setempat (BPBD, TNI, POLRI), maupun melakukan sosialisasi langsung kepada masyarakat setempat.
Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.

Gunungapi Agung (Bali).
Pasca erupsi November 2017 hingga awal Februari 2018 kegempaan mengalami penurunan. Gempa frekuensi tinggi (Gempa Vulkanik dan Tektonik Lokal) dan Gempa frekuensi rendah (Gempa Hembusan dan Letusan) masih terekam dengan jumlah yang tidak signifikan. Pemantauan secara visual dengan menggunakan drone yang dilakukan pada tanggal 22 Januari 2018 menunjukkan bahwa volume kubah lava relatif tidak berubah yaitu sekitar 23 juta m3. Pengukuran deformasi GPS maupun Tiltmeter jika dihitung dari November 2017 hingga saat ini maka secara umum menunjukkan pola deflasi. Citra Satelit masih merekam adanya energi termal di permukaan Kawah Gunung Agung. Pengamatan visual G. Agung dari Pos PGA Agung di Rendang menunjukkan bahwa aktivitas erupsi masih terus terjadi, namun dengan eksplosivitas rendah dan frekuensi kejadian relatif rendah.
Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 10 Februari 2018 pukul 09.00 WITA status G. Agung diturunkan dari Level IV (Awas) ke Level III (Siaga).
Pada 23, 24 dan 25 Juni 2018 terjadi rentetan Gempa Vulkanik Dalam mengindikasikan pergerakan magma baru dari kedalaman menuju ke permukaan. Pada 27 Juni 2018 terjadi erupsi eksplosif dan disusul erupsi efusif selama lk. 24 jam pada 28-29 Juni 2018. Erupsi efusif ini menghasilkan pertumbuhan kubah lava sekitar 4 juta m3 sehingga volume total kubah lava menjadi sekitar 27 juta m3. Erupsi efusif ini disertai emisi gas dan abu halus yang tersebar ke selatan dan bertahan lama di udara sehingga sempat menutup Bandara Ngurah Rai selama lk. 10 jam. Frekuensi kejadian erupsi kemudian meningkat dimana puncaknya pada 2 Juli 2018 terjadi erupsi Strombolian disertai dentuman dengan jarak lontaran material pijar mencapai jarak 2 km dari kawah puncak ke segala arah hingga keluar kawah. Frekuensi erupsi setelah itu hingga saat ini mengalami penurunan. Data pemantauan masih mengindikasikan bahwa aktivitas Gunung Agung belum stabil dan masih rentan terjadi erupsi.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut, asap kawah teramati berwarna putih dengan intensitas tipis setinggi 50 m di atas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah timur dan barat.
Rekaman seismograf tanggal 3 September 2018 tercatat:- 4 kali gempa Hembusan- 1 kali gempa Vulkanik Dalam- 26 kali gempa Tektonik Jauh 
Tanggal 4 September 2018 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat:- 2 kali gempa Hembusan- 1 kali gempa Vulkanik Dangkal- 15 kali gempa Tektonik Jauh
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Agung terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Karangasem tentang penanggulangan bencana erupsi Agung.

Gunungapi Krakatau (Lampung).
Gunung Krakatau secara administratif termasuk kedalam wilayah Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung, tercatat aktivitas letusan terakhir terjadi pada tanggal 19 Februari 2017, berupa letusan strombolian. Tingkat aktivitas saat ini adalah Level II (WASPADA). G. Krakatau (305 m dpl) mengalami peningkatan aktivitas vulkanik sejak 18 Juni 2018.
Pada umumnya, keseharian aktivitas G. Krakatau secara visual jelas hingga tertutup kabut, pada saat cuaca cerah teramati asap kawah utama dengan ketinggian 300-500 meter dari puncak, bertekanan lemah dengan warna putih dan intensitas tipis hingga sedang. Secara kegempaan, didominasi oleh jenis Gempa Vulkanik Dangkal (VB) dan Gempa Vulkanik Dalam (VA). Selain itu, terekam juga jenis gempa Hembusan, Tektonik Lokal (TL) dan Tektonik Jauh (TJ).
Tanggal 18 Juni 2018, selain gempa vulkanik dan tektonik, mulai terekam juga gempa Tremor menerus dengan amplitudo 1 – 21 mm (dominan 6 mm). Tanggal 19 Juni 2018, gempa Hembusan mengalami peningkatan jumlah dari rata-rata 1 kejadian per hari menjadi 69 kejadian per hari. Selain itu mulai terekam juga gempa Low Frekuensi sebanyak 12 kejadian per hari. Gempa Tremor menerus dengan amplitude 1 – 14 mm (dominan 4 mm). Tanggal 20 Juni 2018, terekam 88 kali gempa hembusan, 11 kali gempa Low frekuensi dan 36 kali gempa Vulkanik Dangkal. Tanggal 21 Juni 2018, terekam 49 kali gempa Hembusan, 8 kali gempa Low Frekuensi, 50 kali gempa Vulkanik Dangkal dan 4 kali gempa Vulkanik Dalam.
Pengamatan Visual G. Krakatau dari tanggal 18 – 20 Juni 2018, pada umumnya gunung tertutup kabut. Sedangkan pada tanggal 21 Juni 2018, gunung tampak jelas hingga kabut, teramati asap kawah utama dengan ketinggian 25 – 100 meter dari puncak, bertekanan sedang berwarna kelabu dengan intensitas tipis.
Dalam rangka Kesiapsiagaan sejak tanggal 18 Juni 2018 sudah dikoordinaskan dan diinformasikan kepada pihak BPBD Prov. Banten, BPBD Prov. Lampung dan BKSDA Lampung agar meningkatkan kewaspadaan dan tidak mendekat ke pulau Anak Krakatau.
Dari kemarin hingga pagi ini, secara visual gunungapi tertutup Kabut. Angin lemah ke arah utara dan barat. Asap kawah tidak teramati.
Melalui seismograf tanggal 3 September 2018 tercatat:- 228 kali gempa Letusan- 62 kali gempa Hembusan- 1 kali gempa Vulkanik Dalam- Tremor menerus dengan amplitudo maksimum 3-43 mm (dominan 15 mm)
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Krakatau terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan BPBD Provinsi Banten maupun BPBD Provinsi Lampung dan BKSDA Lampung agar meningkatkan kewaspadaan dan tidak mendekat ke pulau Anak Krakatau.

Gunungapi Merapi (Jawa Tengah - Yogyakarta).
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Merapi (2968 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.
Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 21 Mei 2018 pukul 23.00 WIB status G. Merapi dinaikkan dari Level I (Normal) ke Level II (Waspada).
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih tipis setinggi 20 m di atas puncak. Angin bertiup lemah ke arah tenggara dan baratlaut.
Melalui rekaman seismograf pada 3 September 2018 tercatat:- 34 kali gempa Guguran- 18 kali gempa Hembusan- 9 kali gempa Hybrid- 1 kali gempa Tektonik Lokal- 1 kali gempa Tektonik Jauh
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Merapi terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan BPBD Kabupaten Sleman, Kabupaten Magelang, Kabupaten Boyolali, dan Kabupaten Klaten tentang penanggulangan bencana erupsi Gunungapi Merapi.

Gunungapi Dukono (Halmahera).
Gunungapi Dukono di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya terjadi relatif menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya cukup berarti hanya berada di sekitar kawah puncak dan ancaman bahaya lebih luas dimungkinkan melalui sebaran abu vulkanik di udara yang dapat mengganggu penerbangan.
Dari kemarin hingga pagi ini secara visual puncak gunungapi teramati jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah/abu erupsi teramati berwarna putih hingga kelabu, bertekanan lemah dan intensitas tebal setinggi 200- 300 m di atas puncak. Angin bertiup lemah ke arah utara.
Melalui seismograf tanggal 3 September 2018 tercatat:- 1 kali gempa Letusan- 3 kali gempa Tektonik Jauh- Tremor menerus dengan amplitudo maksimum 0.5-28 mm (dominan 4 mm)
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Dukono terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Halmahera Utara tentang penanggulangan bencana erupsi Dukono.

Gunungapi Ibu (Halmahera).
Gunungapi Ibu di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya sejak tahun 2000 menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya primer utamanya berada di sekitar puncak dan arah sektoral ke arah bukaan kawah Utara, ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar di sepanjang aliran sungai yang berhulu di sekitar puncak G. Ibu, serta sebaran abu di udara yang dapat mengganggu penerbangan.
Dari kemarin hingga pagi ini secara visual puncak gunungapi dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah/abu erupsi teramati berwarna putih hingga kelabu, bertekanan lemah hingga sedang dan intensitas tipis hingga sedang dengan ketinggian 200-500 m di atas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah utara - timur.
Melalui seismograf tanggal 3 September 2018 tercatat:- 94 kali Gempa Letusan- 64 kali Gempa Hembusan- 23 kali Gempa Guguran- 1 kali gempa Tremor Harmonik
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Ibu terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan Ibu dan BPBD Kabupaten Halmahera Barat tentang penanggulangan bencana erupsi Gunungapi Ibu.
Informasi mengenai abu vulkanik erupsi/letusan gunungapi Indonesia yg berpotensi membahayakan keselamatan penerbangan disampaikan melalui email VONA (Volcano Observatory Notice for Aviation) dengan menggunakan aplikasi MAGMA Indonesia ((https://magma.vsi.esdm.go.id) ke stakeholders nasional maupun internasional:- Dirjen Perhubungan Udara-Kemenhub,- BMKG,- Air Nav,- Air Traffic Control, Airlines,- VAAC Darwin,- VAAC Tokyo,- dll
VONA terakhir yang terkirim:
(1) G. Sinabung, Sumatera Utara.VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 22 Juni 2018 pukul 09:06 WIB, terkait letusan dengan ketinggian kolom abu sekitar 3460 m di atas permukaan laut atau sekitar 1000 m di atas puncak, angin bertiup ke arah barat-selatan.
(2) G. Agung, Bali.VONA terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 27 Juli 2018 pukul 14:27 WITA, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu 5142 m di atas permukaan laut atau sekitar 2000 m di atas puncak, angin bertiup ke arah barat.
(3) G. Krakatau, Lampung.VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 23 Agustus 2018 pukul 18:07 WIB, terkait dengan adanya letusan yang terekam seismogram dengan amplitudo maksimum 27 mm dengan durasi sekitar 31 detik. Ketinggian kolom letusan sekitar 1005 m di atas permukaan laut atau 700 m di atas puncak. Kolom abu bergerak mengarah ke timur laut.
(4) G. Merapi, Jawa Tengah - Yogyakarta.VONA terakhir terkirim kode warna GREEN, terbit tanggal 3 Juni 2018 pukul 20:39 WIB, terkait dengan adanya aktivitas hembusan asap berwarna putih dengan ketinggian kolom asap setinggi 3768 m di atas permukaan laut atau sekitar 800 m di atas puncak.
(5) G. Dukono, Maluku Utara.VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 1 September 2018 pukul 18:18 WIT, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1729 m di atas permukaan laut atau sekitar 500 m di atas puncak. Kolom abu bergerak mengarah ke arah timurlaut - utara.
(6) G. Ibu, Maluku Utara.VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 24 Agustus 2018 pukul 17:38 WIT terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 2125 m di atas permukaan laut atau sekitar 800 m di atas puncak, kolom abu bergerak mengarah ke selatan.
Kegiatan gunungapi lain yg di atas NORMAL sampai pagi ini belum diikuti tanda-tanda peningkatan kegiatan.

2. Gerakan Tanah

Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan  September 2018 yang dibandingkan bulan Agustus 2018  akan  cenderung sedikit mengalami peningkatan potensinya di sebagian besar wilayah indonesia  mulai dari  sebagian pulau Pulau Sumatra , Jawa , Kalimantan, Bali, kecuali wilayah Sulawesi , Bali, Nusa Tenggara,  Maluku dan  Papua . Wilayah Indonesia yang  secara umum tetap  perlu diwaspadai   utamanya di daerah wilayah jalur jalan dan pemukiman di perbukitan, pegunungan,  dan sepanjang aliran sungai antara lain  wilayah Sumatera bagian Barat dan Tengah, Wilayah Jawa bagian  Barat, Tengah dan Timur,  Selatan,   Timur dan Utara, Sulawesi bagian Selatan, Barat , Utara, dan Tengah , Maluku  , dan wilayah Papua. 
Kejadian gerakan tanah / tanah longsor dalam 1 minggu   terjadi di: 
1.Kabupaten Brebes, Provinsi Jawa Tengah*, 2.Kota Tangerang Selatan, Provinsi Banten*, 3.Kabupaten Merangin, Provinsi Jambi*, 4. Kabupaten Lebong, Provinsi Bengkulu, 5.Kabupaten Trenggalek, Provinsi Jawa Timur, 6.Kabupaten Malinau, Provinsi Kalimantan Utara, 7.Kabupaten Aceh Jaya, Provinsi Aceh.

*Kejadian Gerakan Tanah   terbaru:

1. Kabupaten Brebes, Provinsi Jawa Tengah
Bencana alam berupa tebing longsor terjadi di Dukuh Pamijen, Desa Tanggeran, Kecamatan Tonjong, Kabupaten Brebes. Longsor yang terjadi pada Sabtu 1 September 2018 sekitar pukul 22.45 WIB ini mengakibatkan Jalan Provinsi yang menghubungkan Kecamatan Tonjong, Brebes dan Kecamatan Bumijawa, Tegal amblas dan hanya tersisa setengahnya.Longsor tersebut berdampak pada rusaknya badan jalan sepanjang 15 meter, lebar 3 meter dengan ketinggian 11 meter. longsor diduga karena tebing dalam keadaan lapuk sehingga menyebabkan mudah longsor. Hal ini membuat lalu lintas terganggu, karena kendaraan hanya bisa digunakan satu lajur saja. 
Sumber : https://kumparan.com/panturapost/longsor-akibatkan-jalan-amblas-di-tonjong-1535893932070155819
Gerakan tanah diperkirakan berupa longsoran tanah. Penyebab gerakan tanah diperkirakan kemiringan lereng yang terjal, drainase air yang tidak berfungsi baik (kebocoran saluran irigasi) menyebabkan air melimpas pada tebing di atas badan jalan sehingga menyebabkan terjadinya longsor. Hujan lebat juga merupakan pemicu terjadinya longsor.

2. Kota Tangerang Selatan, Provinsi Banten*
Intensitas hujan lebat yang turun merata sepanjang sore Minggu (2/9/2018).di Kota Tangerang Selatan (Tangsel) menyebabkan banjir di sejumlah wilayah, dan bahkan ada turab jebol.Lokasi longsor terjadi di asrama Polisi Udara, Pondok Cabe Ilir, Kecamatan Pamulang.
Sumber berita :https://kabar6.com/hujan-lebat-di-tangsel-picu-banjir-dan-tebing-longsor/
Gerakan tanah diperkirakan berupa longsoran tanah. Penyebab gerakan tanah diantaranya kemiringan lereng yang terjal, tanah lapukan yang tebal, gembur dan sarang serta mudah menyerap air, serta dipicu oleh curah hujan yang tinggi.

3. Kabupaten Merangin, Provinsi Jambi
Peristiwa nahas di lokasi penambangan emas liar di Desa Parit Ujung Tanjung, Kecamatan Renah Pembarap, Kabupaten Merangin, Provinsi Jambi terjadi pada Minggu (2/9/2018) sekitar pukul 12.00 WIB. Kali ini, 13 orang penambang emas liar dikabarkan hilang tertimbun longsor saat sedang menggali lubang penambangan yang lokasinya tak jauh dari sungai.
Sumber: https://www.suara.com/news/2018/09/03/081512/sekelompok-penambang-emas-liar-hilang-tertimbun-longsor-di-jambi
Penyebab gerakan tanah diperkirakan karena lereng yang curam, tata cara penambangan tradisional yang belum mengikuti aturan sistem penambangan yang benar, tanah lapukan yang tebal, gembur dan sarang mudah menyerap air, tidak adanya sistem drainase/saluran air di area penambangan, dipicu oleh curah hujan yang tinggi
Rekomendasi :
• Agar masyarakat di sekitar daerah bencana maupun pengguna jalan lebih waspada, terutama saat maupun setelah hujan deras yang berlangsung lama, karena daerah tersebut masih berpotensi terjadi gerakan tanah susulan.
• Segera memperbaiki badan jalan dan saluran irigasi yang rusak, dalam pelaksanaannya agar sesuai kaidah konstruksi yang baik.
• Pembersihan material longsoran agar tidak dilaksanakan pada saat dan setelah turun hujan karena dikhawatirkan adanya longsor susulan;
• Pemotongan lereng yang tidak terlalu tegak dan harus mengikuti kaidah-kaidah geologi tehnik.
• Pemasangan rambu rawan bencana longsor untuk meningkatkan kewaspadaan;
• Warga yang bertempat tinggal di sekitar lokasi untuk tetap waspada apabila terjadi hujan yang berlangsung lama karena dikhawatirkan terjadi longsor susulan.
• Menjaga fungsi lahan dengan menanami vegetasi berakar dalam dan kuat serta  menata aliran air permukaan pada tebing bagian atas;
• Pembersihkan material dari area yang terkena longsoran;
• Penghentian sementara kegiatan penambangan;
• Perlu penerapan aturan teknis penambangan yang direkomendasikan Kementrian ESDM atau Dinas ESDM;
• Melakukan penataan air beserta drainasenya;
• Peningkatan kewaspadaan bagi warga yang bermukim di sekitar lokasi penambangan, bila perlu mengungsi jika masih terjadi hujan lebat;
• Meningkatkan sosialisasi mitigasi gerakan tanah kepada warga dan penambang tradisional terkait aturan teknis penambangan dan ancaman gerakan tanah.



4 September 2018
PVMBG,
BADAN GEOLOGI,
K
ESDM, 




Kasbani


Berita Terkini