Koleksi “temuan Spektakuler” Museum Geologi

Ketika memasuki ruangan Museum Geologi, kita akan dihadapkan pada sesuatu yang sangat besar dan gagah. Yaa…itulah fosil Gajah Blora, fosil yang sudah menempati lobby Museum Geologi sejak tahun 2013.

 gbr1

Fosil Gajah Blora berdiri kokoh di lobby Museum Geologi.

Fosil ini merupakan fosil gajah purba yang hidup pada 250.000 – 200.000 tahun yang lalu. Hewan yang akhirnya diketahui mempunyai nama Elephas hysudrindicus ini ditemukan di Dusun Sunggun, Desa Medalem, Kecamatan Kradenan, Kabupaten Blora, Jawa Tengah.

 gbr2

Lokasi penggalian yang merupakan longsoran tebing bekas galian pasir.

Penemuan diawali dengan tersingkapnya gading gajah akibat longsornya tebing bekas galian pasir yaitu pada 24 Maret 2009. Dua hari kemudian tersingkap kembali gigi yang utuh dan masih menempel pada rahang atas, sehingga dapat dipastikan fosil tengkorak yang terpendam di lokasi tersebut.

Penggalian kemudian dilakukan sejak 29 Maret 2009 pada endapan teras sungai Bengawan Solo purba setebal lebih dari 4 meter tersebut, yang berjarak sekitar 2 kilometer dari aliran Bengawan Solo sekarang. Penggalian dilakukan dalam dua tahap antara bulan Maret hingga Mei 2009. Dalam melakukan penggalian, para ahli dari Museum Geologi dibantu oleh masyarakat setempat dan berhasil menemukan serta mengangkat 90% dari seluruh fosil gajah purba.

Setelah semua fosil gajah berhasil diangkat dari lokasi penggalian, selanjutnya fosil tersebut dibawa ke Museum Geologi untuk dilakukan preparasi. Proses preparasi fosil tersebut, membutuhkan waktu empat tahun. Selanjutnya proses persiapan rekonstruksi, seperti pembersihan, identifikasi, perbaikan fosil rusak, pengukuran, dokumentasi, permodelan, dan perwarnaan sudah selesai dilaksanakan. Dalam melakukan preparasi dan rekonstruksi ini, para ahli membutuhkan waktu cukup lama karena mereka membutuhkan proses detail dan akurat agar hasilnya bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

 gbr3 

Proses ekskavasi fosil gajah Blora

Temuan tersebut merupakan temuan yang sangat spektakuler, karena sejak dimulainya penelitian fosil vertebrata di Indonesia (khususnya Jawa), setelah lebih dari 150 tahun lalu (1850-an), baru sekarang ini ditemukan satu individu lengkap fosil gajah. Untuk lebih mengetahui asal-usul penelitian vertebrata di daerah ini, mari kita flashback untuk melihat sejarah penelitiannya.

Pada pertengahan 1931, C. ter Haar seorang ahli geologi Jawatan Geologi (sekarang dan selanjutnya dikenal sebagai Badan Geologi), melakukan penelitian geologi dan menemukan fosil vertebrata pada endapan teras Bengawan Solo di Desa Ngandong. Temuan tersebut diikuti oleh ekskavasi sistematis selama kurun waktu 1931-1933. Sebagian koleksi fosil vertebrata dari Ngandong dijadikan sebagai unit fauna (Fauna Ngandong) di dalam biostratigrafi fosil vertebrata Jawa (von Koenigswald,1934; Sondaar, 1984). Meskipun demikian, masih banyak teka-teki seputar Fauna Ngandong serta interaksinya dengan Manusia Purba di daerah Ngandong (Solo Man).

 gbr4

 Proses menurunkan fosil gajah Blora dari tebing bekas galian pasir.

Temuan fosil gajah ini telah diliput secara luas oleh berbagai media massa nasional baik cetak maupun elektronik, serta mendapat perhatian khusus dari majalah National Geographic Indonesia. Bahkan telewicara jarak jauh diminta pula oleh Radio Australia, Radio Belanda, BBC-London dan Harian Kyoto-Jepang dan fosil gajah tersebut sempat dipamerkan di Hongkong.

Saat ini fosil Gajah Blora telah berdiri kokoh di lobby Museum Geologi dan siap menyapa para pengunjung yang memasuki Lobby Museum Geologi.

 

Penulis : Asep Saefudin

Editor   : Iwan Kurniawan, ST.