Berita Terkini Badan Geologi, Geological Agency of Indonesia, Badan Geologi, Geological Agency, Kementerian ESDM, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Ministry of Energy and Mineral Resources of Republic of Indonesia http://bgl.esdm.go.id/index.php/berita-terkini Tue, 22 Jan 2019 12:37:52 +0000 Joomla! 1.5 - Open Source Content Management en-gb Kepala Badan Geologi melantik Pejabat Fungsional di Lingkungan Badan Geologi http://bgl.esdm.go.id/index.php/berita-terkini/1593-kepala-badan-geologi-melantik-pejabat-fungsional-di-lingkungan-badan-geologi http://bgl.esdm.go.id/index.php/berita-terkini/1593-kepala-badan-geologi-melantik-pejabat-fungsional-di-lingkungan-badan-geologi Kepala Badan Geologi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Rudy Suhendar, hari ini Rabu (18/01/2019) melantik 23 Pejabat Fungsional di Lingkungan Badan Geologi KESDM bertempat di Auditorium Geologi Jl. Diponegoro 57 Bandung. Pelantikan dan penandatanganan berita acara dihadiri oleh Para Pejabat Tinggi Pratama, Administrator dan Pengawas di lingkungan Badan Geologi KESDM.
gbr1
Dalam sambutannya, Kepala Badan Geologi menekankan agar para pejabat fungsional yang dilantik hari ini harus mampu menunjukkan komitmen dan tanggung jawab moral terhadap konsekuensi atas jabatan yang diemban. Hal ini juga merupakan momentum pemicu semangat bagi pejabat fungsional tertentu lainnya untuk meningkatkan kompetensi, profesionalisme dan terus berprestasi.

 gbr2

gbr3

Dalam rangka pengembangan kualitas organisasi kepemerintahan yang semakin efektif dan efisien, maka pengembangan berbagai jabatan fungsional terus ditingkatkan dan dilengkapi sejalan dengan kemajuan jaman yang semakin mengarah kepada suasana profesionalisme jabatan, maka jabatan fungsional dimungkinkan akan menjadi jabatan unggulan yang lebih diperhitungkan dimasa mendatang.

Pejabat Fungsional yang dilantik terdiri dari :

1. Soleh Basuki Rahmat, S.T.,M,Phil Penyelidik Bumi Muda

2. Robertus Septima Luhur Simarmata, S.T Penyelidik Bumi Muda

3. Reynold Adhy Guntur Tampubolon, S.T Penyelidik Bumi Muda

4. Khoirun Nahar, S.T Penyelidik Bumi Pertama

5. Fitro Zamani, S.SI., Si Penyelidik Bumi Pertama

6. Erdival, S.Si., M.T Penyelidik Bumi Muda

7. Arianne Pingkan Lewu, ST Peneliti Pertama

8. Edi Prantoko, ST Penyelidik Bumi Muda

9. Yoga Era Pamitro, S.T.,M.Si Penyelidik Bumi Muda

10. Fajar Dwinanto, S.T., M.T Penyelidik Bumi Muda

11. Taufiq Wirabuana, S.T., M.T Penyelidik Bumi Muda

12. Kurnia, S.T Penyelidik Bumi Muda

13.Saeru Salman Teknisi Litkayasa Mahir

14. Mariono Teknisi Litkayasa Mahir

15. Asep Saefudin Teknisi Litkayasa Mahir

16. Andri Perdana Putra, S.T., M.T Peneliti Muda

17. Asmana, S.E Arsiparis

18. Santi Fitrianingsih, S.E Arsiparis

19. Agus Juanda, S.Kom Arsiparis

20. Sugih Gustiar, S.E Pustakawan Muda

21. Ollybinar Rizkika, S.T Penyelidik Bumi Muda

22. Riecca Oktavitania, S.T Penyelidik Bumi Muda

23. Emilia Rosmika, ST Penyelidik Bumi Muda

]]>
umum@geologi.esdm.go.id (Tata Usaha) Berita Terkini Sun, 20 Jan 2019 14:51:37 +0000
Mining For Life http://bgl.esdm.go.id/index.php/berita-terkini/1592-mining-for-life http://bgl.esdm.go.id/index.php/berita-terkini/1592-mining-for-life Tanggal 28 September setiap tahunnya diperingati oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) sebagai hari jadi Pertambangan dan Energi, hal ini tidak terlepas dari peristiwa besar bagi sektor pertambangan dan energi yang terjadi pada masa perjuangan tahun 1945.

gbr1

Mining for Life merupakan salah satu rangkaian acara yang telah dilaksanakan di hari Jadi Pertambangan pada tanggal 28 September 2018. Kegiatan Mining For Life, yang diadakan di Museum Geologi Bandung pada tanggal 19 Januari 2019 bekerjasama dengan sejumlah perusahaan tambang di Indonesia yang tergabung dalam Indonesian Mining Association (IMA). Pada acara Mining for Life digelar serangkaian kegiatan seperti pameran foto, instalasi dan video informatif mengenai praktik pertambangan yang baik dan bertanggung jawab, kompetisi media sosial, kompetisi vlog stand-up comedy, diskusi bersama para CEO perusahaan tambang dengan pimpinan media massa, kompetisi karya jurnalistik serta acara musik yang menghadirkan band ternama. pada acara hari ini kegiatan berkolaborasi dengan kegiatan Day and Night At The Museum.

Acara dibuka oleh Kepala Badan Geologi, Rudy Suhendar. Dalam sambutannya Rudi Suhendar menyampaikan bahwa Museum Geologi memiliki keterkaitan yang erat dengan industri tambang. Museum Geologi sangat representatif untuk menjelaskan terkait masalah tambang kepada masyarakat awam, karena koleksinya yang lengkap dan interaktif. Museum Geologi, Badan Geologi senantiasa akan terus bekerja dan berkolaborasi dengan seluruh stakeholders terkait, untuk meramu ide, gagasan dan pemikiran serta bekerjasama dalam mengembangkan program-program kegiatan dan mendorong museum menjadi pusat penyebarluasan informasi dan tempat pembelajaran, pendidikan ilmu pengetahuan tentang alam, teknologi, seni, dan budaya Nusantara.

 gbr2

Ido Hutabarat selaku Ketua Indonesian Mining Association (IMA) dalam sambutannya mengatakan konsep dasar acara Mining for Life ini berangkat dari fakta bahwa Indonesia dikenal sebagai negara yang kaya akan sumber daya alam, khususnya di sektor pertambangan. Begitu besarnya potensi sektor pertambangan di Indonesia, hingga sektor ini menjadi salah satu penyumbang utama dari Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) di APBN kita. Acara ini menjadi salah satu sarana untuk mengapresiasi kayanya kandungan tambang di Indonesia dan kemanfaatannya untuk kehidupan.

 

 

]]>
umum@geologi.esdm.go.id (Tata Usaha) Berita Terkini Sun, 20 Jan 2019 06:26:37 +0000
Menteri E S D M Melakukan Pengamatan Guguran Lava Gunung Merapi http://bgl.esdm.go.id/index.php/berita-terkini/1591-menteri-e-s-d-m-melakukan-pengamatan-guguran-lava-gunung-merapi http://bgl.esdm.go.id/index.php/berita-terkini/1591-menteri-e-s-d-m-melakukan-pengamatan-guguran-lava-gunung-merapi 20190118224224_img_0138

Pada saat ini Gunungapi Merapi berada pada tingkat aktivitas Level II (WASPADA) dan mengalami erupsi tidak menerus. Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 21 Mei 2018 pukul 23.00 WIB status G. Merapi dinaikkan dari Level I (Normal) ke Level II (Waspada)20190118222723_img_013120190118225716_img_0141

Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tebal dengan tinggi sekitar 50 meter dari puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah timurlaut dan baratlaut. Melalui rekaman seismograf tanggal 17 Januari 2019 tercatat:
- 37 kali gempa Guguran
- 1 kali gempa Hembusan
Pada malam ini visual merapi tertutup kabut sehingga tidak bisa melihat guguran lava.]]>
umum@geologi.esdm.go.id (Tata Usaha) Berita Terkini Sat, 19 Jan 2019 00:38:53 +0000
Pelantikan Pejabat Pimpinan Tinggi dan Pejabat Administrasi di Lingkungan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral http://bgl.esdm.go.id/index.php/berita-terkini/1590-pelantikan-pejabat-pimpinan-tinggi-dan-pejabat-administrasi-di-lingkungan-kementerian-energi-dan-sumber-daya-mineral http://bgl.esdm.go.id/index.php/berita-terkini/1590-pelantikan-pejabat-pimpinan-tinggi-dan-pejabat-administrasi-di-lingkungan-kementerian-energi-dan-sumber-daya-mineral Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan, hari ini, Senin (14/01/2019) melantik 37 (tiga puluh tujuh) orang Pejabat di Lingkungan Kementerian ESDM yang terdiri dari 1 orang Pejabat Pimpinan Tinggi Pratama (Eselon II), 19 orang Pejabat Administrator (Eselon III), 17 orang Pejabat Pengawas (Eselon IV) di Lingkungan Kementerian ESDM. Pelantikan dilaksanakan di Ruang Sarulla Gedung Sekretariat Jenderal KESDM, Jl. Merdeka Selatan No. 18 Jakarta.

gbr1

Dari lingkungan Badan Geologi dilantik 7 orang Pejabat. Berikut rincian pejabat yang dilantik:

  1. Sofyan Suwardi (Ivan)S.T., M.T. dilantik sebagai Kepala Seksi Edukasi dan Informasi di Museum Geologi
  2. Frediyanto Sawhir, M.H. dilantik sebagai Kepala Bagian Umum di Sekretariat Badan Geologi
  3. Ma'mur, S.T. M. Hum. dilantik sebagai Kepala Subbidang Pemetaan Tematik di Pusat Survei Geologi
  4. H. Amin Hamidi, S. Psi. dilantik sebagai Kepala Bagian Kepegawaian dan Organisasi di Sekretariat Badan Geologi.
  5. Dr. Ir. Hendra Gunawan dilantik sebagai Kepala Bidang Mitigasi Gunungapi di Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi
  6. Ir. Wawan Irawan dilantik sebagai Kepala Bagian Tata Usaha di Pusat Air Tanah dan Geologi Tata Lingkungan
  7. Raden Isnu Hajar Sulistyawan, S.T., M.T. dilantik sebagai Kepala Balai Konservasi Air Tanah PATGTL
gbr3


gbr2
Pada pidato sambutannya Jonan mengucapkan terima kasih kepada panitia seleksi yg telah bekerja, selamat kepada yg dilantik, diharapkan bekerjalah sesuai dengan regulasi undang-undang yang berlaku. Kepada para pejabat yg dilantik  jalankanlah  tata kelola yg baik, selalu produktif dan inisiatif dalam melaksanankan pekerjaan. Kepada seluruh ASN KESDM  menjelang pemilu ini diharapkan bersikap netral 

 

]]>
umum@geologi.esdm.go.id (Tata Usaha) Berita Terkini Mon, 14 Jan 2019 00:47:14 +0000
Warisan Gas di Bumi Kalimantan Timur http://bgl.esdm.go.id/index.php/berita-terkini/1589-warisan-gas-di-bumi-kalimantan-timur http://bgl.esdm.go.id/index.php/berita-terkini/1589-warisan-gas-di-bumi-kalimantan-timur Energi fosil masih menjadi tumpuan dalam aktivitas masyrakat Indonesia. Eksplorasi atau pencarian sumber energi fosil terus dilakukan untuk menuju swasembada energi serta untuk mengurangi impor energi. Salah satu pulau yang kaya akan SDA di Indonesia adalah Pulau Kalimantan. Provinsi Kalimantan Timur khususnya, merupakan provinsi yang kaya akan sumberdaya alam. Kekayaan sumberdaya alam tersebut diantaranya minyak dan gas bumi, batubara, dan berbagai bahan tambang lainnya. Minyak dan gas bumi yang selama ini dieksploitasi di Kalimantan Timur adalah minyak dan gas bumi yang menurut proses terbentuknya dan metode pengambilannya bersifat konvensional. Nyatanya di Kalimantan Timur terdapat pula potensi minyak dan gas bumi yang bersifat non konvensional diantaranya gas serpih (shale gas) dan gas methan batubara.

 gbr1

Lokasi Cekungan Kutai (Badan Geologi, 2009)

Gas serpih adalah gas alam yang terperangkap di batuan serpih (shale). Batuan itu adalah batuan sedimen berbutir halus berupa seperti lempung yang menyerpih, berlapis – lapis. Lokasi yang berpotensi mengandung gas sepih berada di Cekungan Kutai. Cekungan Kutai adalah sebuah cekungan sedimen yang area pelamparannya hampir di seluruh wilayah Kalimantan Timur. Riset Pusat Survei Geologi, tahun 2017 pernah menghitung sebagian potensi gas sepih di Cekungan Kutai dengan hasil sebesar 46.79 TCF. Tahun 2018 dilakukan pula perhitungan untuk Cekungan Kutai bagian selatan. Formasi batuan yang menjadi target tempat gas serpih terperangkap adalah Formasi Batuayau (terbentuk sekitar 30 – 40 juta tahun yang lalu), Formasi Wahau dan Formasi Pamaluan yang keduanya terbentuk sekitar 20 – 30 juta tahun yang lalu.

 gbr2

Salah satu kenampakan serpih Formasi Pamaluan

Tantangan kegiatan eksplorasi dan eksploitasi gas serpih antara lain faktor mahalnya invenstasi yang harus dikeluarkan serta belum adanya gas serpih yang diproduksi di Indonesia. Untuk menembus dan mengambil “harta karun” itu digunakan teknologi khusus, diantarnya teknologi perekahan dengan tenaga hidrolik yang mampu membelah batuan sehingga gas terlepas. Provinsi Kalimantan Timur sebenarnya juga memiliki aspek pendukung untuk memproduksi gas serpih yaitu berupa fasilitas produksi migas yang sudah ada dan ketersediaan air yang melimpah untuk merekahkan batuan serpih. Harapannya eksplorasi gas serpih terus dilanjutkan dan dikembangkan sehingga dapat menambah cadangan migas nasional, menambah investasi dan tentunya membuka lapangan kerja baru.

Penyusun: Masykur Widhiyatmoko, ST

]]>
umum@geologi.esdm.go.id (Tata Usaha) Berita Terkini Fri, 11 Jan 2019 09:22:05 +0000
Tanggapan Bencana Gerakan Tanah di Sukabumi Jawa Barat http://bgl.esdm.go.id/index.php/berita-terkini/1588-tanggapan-bencana-gerakan-tanah-di-sukabumi-jawa-barat http://bgl.esdm.go.id/index.php/berita-terkini/1588-tanggapan-bencana-gerakan-tanah-di-sukabumi-jawa-barat Di penghujung tahun 2018 telah terjadi Gerakan Tanah di Kampung Cimapag, Desa Sinaresmi, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Gerakan tanah terjadi pada Senin (31/12/2018) setelah hujan yang mengguyur selama beberapa jam. Akibat Gerakan tanah tersebut 34 rumah tertimbun material longsor, dari 107 orang warga saat ini telah diketahui 2 orang meninggal dan 33 orang selamat, sisanya masih belum diketahui.
gbr1

Peta Lokasi gerakan tanah Kp. Cimapag, Desa Sinaresmi, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat

Jenis gerakan tanah diperkirakan berupa longsoran bahan rombakan. Kondisi daerah bencana diketahui yaitu:

  1. Morfologi daerah bencana perbukitan dengan kemiringan lereng terjal – sangat terjal. Lokasi bencana berada pada ketinggian lebih dari 650 - 800 meter diatas permukaan laut. Disebelahnya terdapat alur sungai kecil.
  2. Berdasarkan Peta Geologi Lembar Sukabumi, Jawa (Sudjatmiko, 1992), daerah bencana disusun oleh Satuan Qvb; Breksi Tapos; Breksi Gunungapi dan Aglomerate.
  3. Berdasarkan Peta Potensi Terjadi Gerakan Tanah Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat, bulan Desember 2018 (Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi) daerah bencana sebagian besar masuk ke dalam Zona Kerentanan Gerakan Tanah Menengah - Tinggi artinya artinya daerah ini dapat terjadi gerakan tanah jika curah hujan di atas normal, terutama pada daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, gawir, tebing jalan atau jika lereng mengalami gangguan dan gerakan tanah lama dapat aktif kembali.
gbr2

 Peta geologi Desa Sinaresmi, Kecamatan Cisolok dan Sekitarnya, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat

 gbr3

Peta prakiraan wilayah terjadinya gerakan tanah pada bulan Juni 2017, Kabupaten Sukabumi

Faktor penyebab terjadinya gerakan tanah diperkirakan:

  1. Hujan dengan intensitas tinggi yang turun sebelum kejadian gerakan tanah,
  2. Kemiringan lereng yang terjal,
  3. Material penyusun lereng yang bersifat poros dan mudah menyerap air. 

 

Mengingat daerah tersebut masih sangat rawan terjadi gerakan tanah dan bukit didaerah tersebut mempunyai kemiringan lereng lebih dari 30 derajat, maka Tim Tanggap Darurat PVMBG Badan Geologi pemeriksaan bencana gerakan tanah siap diberangkatkan ke lokasi bencana, untuk melakukan :

  1. Evaluasi bencana di sekitar lokasi terhadap potensi longsoran susulan.
  2. Memberikan rekomendasi teknis penanggulangan di daerah bencana.
  3. Sosialisasi langsung di lokasi bencana kepada masyarakat dan aparat Pemerintah daerah di lokasi bencana.
]]>
umum@geologi.esdm.go.id (Tata Usaha) Berita Terkini Tue, 01 Jan 2019 05:31:58 +0000
KONDISI GUNUNG ANAK KRAKATAU PER 30 DESEMBER 2018 http://bgl.esdm.go.id/index.php/berita-terkini/1587-kondisi-gunung-anak-krakatau-per-30-desember-2018 http://bgl.esdm.go.id/index.php/berita-terkini/1587-kondisi-gunung-anak-krakatau-per-30-desember-2018 Gunung Krakatau yang terletak di Selat Sunda, diantara ujung selatan pulau Sumatar dan ujung Barat pulau Jawa, dikenal luas oleh letusan besarnya yang terjadi pada tahun 1883. Letusan 1883 ini membentuk kaldera di bawah permukaan air laut dengan diameter sekitar 7 km.

Mulai tahun 1927 tumbuh kerucut gunungapi baru ditepian lingkar kaldera dan muncul di atas permukaan laut tanggal 29 Desember 1929. Sejak saat itu hingga saat ini Gunung Anak Krakatau berada dalam fasa konstruksi (membangun tubuhnya hingga besar), melalui perselingan fase-fase aktivitas tenang dan erupsi. Gunungapi muda ini sangat aktif. Letusannya terjadi antara 2 sampai 4 tahun sekali. Fase erupsi biasanya berlangsung berbulan-bulan bahkan bisa berlangsung beberapa tahun.

Pada pengukuran yang dilakukan di bulan September 2018, Gunung Anak Krakatau mempunyai elevasi tertinggi 338 meter di atas permukaan laut. Secara morfologi bentuk Gunung Anak Krakatau tidak pernah mempunyai bentuk kerucut yang ideal. Separuh di sisi baratlaut-utara-timur-tenggara relatif stabil sejak pembentukan pertama dan bentukan kerucut dengan kelerengan relatif landai. Sebaliknya, di sisi barat-baratdaya-selatan berubah-ubah sebagai hasil dari aktivitas erupsinya. Hal ini terjadi karena Gunung Anak Krakatau muncul di posisi tepian kaldera, yang sering disebut sebagai ‘ring-dyke’, yaitu terobosan yang muncul karena di tepian kaldera meupakan zona yang relatif lemah sesudah pembentukan kaldera.

Karakter letusannya adalah erupsi magmatik yang berupa erupsi ekplosif lemah (strombolian) dan erupsi efusif berupa aliran lava. Di fase-fase awal pembentukan, yaitu menjelang muncul di permukaan sampai sekitar 1935, letusan berupa letusan Surtseyan karena posisi kawah masih sangat rendah, yaitu level permukaan air laut. Pada tahun 2016 letusan terjadi tanggal 20 Juni 2016, sedangkan pada tahun 2017 letusan terjadi tanggal 19 Februari 2017 berupa letusan strombolian. Tahun 2018, kembali meletus sejak tanggal 29 Juni 2018 sampai saat ini, sebagaimana biasanya letusan berupa letusan-letusan strombolian.

Aktivitas Gunung Anak Krakatau dipantai dengan pemasangan beberapa stasiun seismik di lereng Gunung Anak Krakatau (KRA) dan juga di lokasi di Pulau Sertung (SRT), di barat daya Gunung Anak Krakatau. Tentu saja stasiun seismik yang dipasang di tubuh Gunung Anak Krakatau akan terdampak langsung letusan apabila terjadi erupsi. Namun demikian, stasiun seismik di Gunung Anak Krakatau penting untuk mendeteksi perubahan fase tenang dan fase erupsi, karena di awal akan tercatat gempa-gempa vulkanik yang berukuran kecil yang sulit tercatat di stasiun seismik yang lebih jauh. Namun demikian, pada saat aktivitas pada level tinggi, stasiun di Pulau Sertung akan mengambil alih karena pada saat aktivitas tinggi, amplitudo kegempaan cukup besar sehingga tercatat di Pulau Sertung dengan jelas.

Hasil Pengamatan Seismik dan Visual periode aktivitas tahun 2018 dapat disarikan sebagai berikut:

Waktu

Keterangan kejadian

s/d Juni 2018

kegempaan dicirikan dengan munculnya gempa-gempa vulkanik dalam dan dangkal

Awal Juli 2018

Diawali dengan hembusan-hembusan asap dari kawah, kemudian diikuti dengan seri letusan-letusan pada tanggal 1 Juli 2018.

Agustus 2018

Aktivitas letusan terus berlangsung dengan jumlah letusan bervariasi dari seratus sampai 400 per hari

September 2018

Bulan September merupakan puncaknya kejadian letusan dengan amplitudo sinyal gempa maksimal dan dengan kejadian letusan-letusan yang terus menerus.

Oktober - November 2018

Fase aktivitas menurun yang ditunjukkan dengan jumlah letusan yang berkurang

22 Desember, 20.56

Rekaman menunjukkan adanya gempa pada pukul 20:55:43. Gempa ini juga tercatat di stasiun seismik Gunung Gede Cianjur. Karena tercatat sampai Gunung Gede, dapat disimpulkan bahwa gempa ini bukan gempa permukaan.

22 Desember, 20.58

Tercatat sinyal-sinyal guguran mulai pukul 20.58.04. Ada kemungkinan bahwa longsor terjadi karena dipicu gempabumi.

22 Desember, 21.03

Stasiun seismik KRA mati. Diperkirakan tertimpa letusan.

24-27 Desember 2018

Terjadi letusan yang menerus disertai ‘dentuman’ gelegar suara letusan yang terdengar sampai di Pos Pasauran. Di level tertinggi, jumlah dentuman mencapai 14 kali per menit ( = sekitar 5 detik sekali terjadi letusan)

26 Desember 2018, pukul 12.15

Mulai letusan-letusan besar dengan diikuti hujan abu.

27 Desember 06.00

Status Gunung Anak Krakatau dinaikkan dari level Siaga menjadi Waspada, dengan rekomendasi yang semula larangan dalam radius 2 km dari Gunung Anak Krakatau menjadi radius 5km dari Gunung Anak Krakatau.

Radius 5 km di lapangan adalah berada di dalam Komplek Krakatau yang dibatasi P. Rakata, P. Sertung dan P. Panjang.

27 Desember 2018 sekitar jam 23.00

Perubahan sinyal kegempaan yang tiba-tiba mengecil, frekuensi menjadi lebih tinggi. Demikian juga sinyal letusan berkurang. Dan sejak saat ini tidak terdengar lagi dentuman gelegar letusan sampai sekarang. (Press-Release per Jumat 28 Desember 2018, 18.00)

Perubahan adanya dentuman dan tidak ada dentuman karena perubahan posisi pusat letusan dari di atas permukaan laut (udara) ke bawah permukaan laut.

Perubahan dari pola dentuman ke tanpa dentuman dapat terjadi apabila tubuh gunung longsor.

28 Desember 2018, pukul 14.18

Dengan sedikit membaiknya cuaca, teramati bahwa tinggi Gunung Anak Krakatau tinggal 110M dpl dari sebelumnya 338 M dpl. Dan tubuh puncak Gunung Anak Krakatau hilang. (sebagian diletuskan dan menimbulkan hujan abu dan tentunya longsor di tgl 26 Desember)

Tinggi gunung 110 M adalah tinggi dari ‘somma’ Anak Krakatau. Yaitu lingkar punggungan sisa dari Aktivitas erupsi tahun 1950.

29-30 Desember

Letusan-letusan terjadi dengan jumlah yang minim (2 jam sekali). Secara visual, letusan berupa letusan jenis Surtseyan, yaitu magma yang keluar langsung menyentuh air.

Catatan kegempaan menunjukkan penurunan

 gbr1

Grafik RSAM (Real-Time Seismic Amplitude Measurements) periode 1 – 30 Desember 2018 sta Sertung


gbr2
Waveform rekaman seismik sebelum longsoran dan tsunami terjadi, yang terekam di sta Sertung (atas) dan sta Puncak G. Gede (bawah)


gbr3

 KESIMPULAN

  1. Posisi kawah yang berada di permukaan atau sedikit dibawah permukaan air laut menjadikan tipe letusan berubah dari Strombolian ke Surtseyan. Letusan jenis ini tidak akan menimbulkan tsunami karena terjadi dipermukaan air dan material cenderung terlempar ke udara secara total.
  2. Puncak Gunung Anak Krakatau hilang (diletuskan dan runtuh) yaitu seluruh kerucut yang berada di atas dan terjadi sesudah ‘somma’ Anak Krakatau.
  3. Dari posisi ‘somma‘ yang berada di pelataran yang relatif stabil, dan tidak pernah longsor sejak lahir Anak Krakatau, potensi terjadi longsor-besar sangatlah kecil atau hampir tidak ada. Tidak ada potensi tsunami dari proses longsoran.
  4. Namun demikian perlu diingat bahwa struktur geologi di Selat Sunda merupakan struktur aktif dengan sebagian berupa sesar-sesar normal, sehingga reaktivitasi sesar-sesar ini tetap harus diwaspadai.

 

REKOMENDASI

  1. Meskipun ancaman tsunami dari proses longsor sangat kecil, direkomendasikan kepada BMKG untuk melakukan pemasangan ‘tidal-gauge’ di P. Rakata. Pilihan P. Rakata ini berdasarkan pertimbangan dari sebaran struktur geologi yang ada di Selat Sunda dan keberadaan Gunung Anak Krakatau
  2. Status Gunung Anak Krakatau masih Siaga (level 3) dengan rekomendasi untuk tidak memasuki area dalam radius 5 km dari G. Anak Krakatau.
  3. Apabila ada perubahan yang signifikan dalam beberapa hari ke depan, Status Gunung Anak Krakatau akan ditinjau kembali.
]]>
umum@geologi.esdm.go.id (Tata Usaha) Berita Terkini Mon, 31 Dec 2018 08:01:02 +0000
Tanggapan Kejadian Gempa Bumi di Manokwari Selatan, Papua Barat Tanggal 28 Desember 2018 http://bgl.esdm.go.id/index.php/berita-terkini/1586-tanggapan-kejadian-gempa-bumi-di-manokwari-selatan-papua-barat-tanggal-28-desember-2018 http://bgl.esdm.go.id/index.php/berita-terkini/1586-tanggapan-kejadian-gempa-bumi-di-manokwari-selatan-papua-barat-tanggal-28-desember-2018


I. Informasi Gempa Bumi
Gempa bumi terjadi pada hari Jumat, 28 Desember 2018, pukul 10:03:33 WIB. Menurut Badan Meteorologi dan Geofisika (BMKG), pusat gempa bumi berada pada koordinat 1,40°LS dan 134,10°BT dengan magnitudo 6,1 pada kedalaman 26 km, berjarak 55 km tenggara Manokwari Selatan, Papua Barat. Informasi dari Geo Forschungs Zentrum (GFZ) Jerman, pusat gempa bumi berada pada koordinat 134,19°BT dan 1,41°LS, magnitudo 5,8 dan kedalaman 10 km.

II. Kondisi geologi daerah terkena gempa bumi
Pusat gempa bumi berada di darat. Lokasi gempa bumi tersusun oleh batuan yang berumur Pratersier hingga Kuarter, terdiri dari batuan sedimen dan batuan gunung api, batuan beku, malihan dan bancuh. Sepanjang pesisir tersusun oleh endapan aluvium yang bersifat lepas dan belum terkonsolidasi sehingga bisa memperkuat efek guncangan gempa.

III. Penyebab gempa bumi
Berdasarkan lokasi dan kedalaman pusat gempa bumi, diperkirakan gempa bumi ini disebabkan Sesar Ransiki yg relatif berarah tenggara-baratlaut.

IV. Dampak gempa bumi
Hingga tanggapan ini dibuat belum ada laporan mengenai kerusakan bangunan yang diakibatkan oleh gempa bumi tersebut. Gempa bumi ini dirasakan sebesar IV MMI ( Modified Mercalli Intensity) di Manokwari, serta III MMI di Ransiki dan Sorong.Gempa bumi ini tidak menimbulkan tsunami karena tidak menimbulkan dislokasi dasar laut.

V. Rekomendasi
(1) Masyarakat diimbau untuk tetap tenang, mengikuti arahan dan informasi dari pemerintah daerah dan BPPD setempat, serta tidak terpancing isu yang tidak bertanggung jawab mengenai  gempa bumi dan tsunami. (2) Masyarakat agar tetap waspada dengan kejadian gempa susulan.

=============
Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi
Badan Geologi - KESDM

Berita Terkini
]]>
rivalz.m.hxh@gmail.com (Admin) Berita Terkini Fri, 28 Dec 2018 11:21:30 +0000
Laporan Kebencanaan Geologi 28 Desember 2018 (06:00 WIB) http://bgl.esdm.go.id/index.php/berita-terkini/1585-laporan-kebencanaan-geologi-28-desember-2018-0600-wib http://bgl.esdm.go.id/index.php/berita-terkini/1585-laporan-kebencanaan-geologi-28-desember-2018-0600-wib I. Summary

Hari ini, Jumat 28 Desember 2018, Bencana Geologi yang terjadi sbb:

1. Gunungapi


Gunungapi Sinabung (Sumatera Utara):
Tingkat aktivitas Level IV (AWAS). G. Sinabung (2460 m dpl) mengalami erupsi menerus sejak tahun 2013.Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah setinggi 250 meter, berwarna putih, dengan intensitas tipis hingga tebal. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah timur dan selatan.
Melalui rekaman seismograf tanggal 27 Desember 2018 tercatat:- 2 kali gempa Hembusan- 1 kali gempa Tornillo- 1 kali gempa Tektonik Jauh
Rekomendasi:- Masyarakat/pengunjung agar tidak melakukan aktivitas di dalam radius 3 km untuk sektor Utara -Barat, 4 km untuk sektor Selatan - Barat, dan dalam jarak 7 km untuk sektor Selatan - Tenggara, didalam jarak 6 km untuk sektor Tenggara - Timur serta didalam jarak 4 km untuk sektor Utara -Timur.- Masyarakat yang bermukim di sepanjang aliran sungai yang berhulu di Gunung Sinabung agar mewaspadai potensi banjir lahar terutama pada saat terjadi hujan lebat.
VONA:VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 22 Juni 2018 pukul 09:06 WIB, terkait letusan dengan ketinggian kolom abu sekitar 3460 m di atas permukaan laut atau sekitar 1000 m di atas puncak, angin bertiup ke arah barat-selatan.

Gunungapi Agung (Bali):
Tingkat aktivitas Level III (Siaga). G. Agung (3142 m dpl) mengalami erupsi sejak 21 November 2017.Dari kemarin hingga pagi ini visual cuaca visual cuaca hingga mendung, angin lemah hingga sedang ke arah timurlaut dan timur. Gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut 0-III. Asap kawah utama tidak teramati. Melalui rekaman seismograf tanggal 27 Desember 2018 tercatat:- 1 kali gempa Tektonik Lokal- 4 kali gempa Tektonik Jauh
Kegempaan tanggal 28 Desember 2018 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat:- 1 kali gempa Vulknaik Dangkal- 1 kali gempa Tektonik Lokal- 1 kali gempa Tektonik Jauh
Rekomendasi:- Masyarakat di sekitar G. Agung dan pendaki/pengunjung/wisatawan agar tidak berada, tidak melakukan pendakiaan tidak melakukan aktivitas apapun di Zona Perkiraan Bahaya yaitu di seluruh area di dalam radius 4 km dari Kawah Puncak G. Agung.- Zona Perkiraan Bahaya sifatnya dinamis dan terus dievaluasi dan dapat diubah sewaktu-waktu mengikuti perkembangan data pengamatan G. Agung yang paling aktual/terbaru.- Masyarakat yang bermukim dan beraktivitas di sekitar aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar hujan yang dapat terjadi terutama pada musim hujan dan jika material erupsi masih terpapar di area puncak. Area landaan aliran lahar hujan mengikuti aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung.- Status Level III (Siaga) hanya berlaku di dalam radius 4 km seperti tersebut di atas, di luar area tersebut aktivitas dapat berjalan normal dan masih tetap aman, namun harus tetap menjaga kewaspadaan.
VONA:VONA terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 27 Juli 2018 pukul 14:27 WITA, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu 5142 m di atas permukaan laut atau sekitar 2000 m di atas puncak, angin bertiup ke arah barat.

Gunungapi Soputan (Sulawesi Utara):
Tingkat aktivitas Level III (SIAGA). Gunungapi Soputan (1784 m dpl) mengalami peningkatan aktivitas vulkanik.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi tertutup kabut. asap kawah tidak teramati. Angin bertiup lemah hingga kencang ke arah timur dan tenggara.
Melalui rekaman seismograf tanggal 27 Desember 2018 tercatat:- 21 kali gempa Guguran- 4 kali gempa Hembusan
Tanggal 28 Desember 2018 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat:Nihil
Rekomendasi:Masyarakat agar tidak beraktivitas di dalam radius 4 km dari puncak G. Soputan dan dalam wilayah sektor arah barat-baratdaya sejauh 6,5 km yang merupakan daerah bukaan kawah, guna menghindari ancaman guguran lava dan awan panas guguran
VONA:VONA terkirim kode warna RED, terbit tanggal 16 Desember 2018 pukul 05:54 WITA, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu maksimum 8809 meter di atas permukaan laut atau sekitar 7000 meter di atas puncak.

Gunungapi Karangetang (Sulawesi Utara):
Tingkat aktivitas Level III (SIAGA). G. Karangetang (2460 m dpl) kembali memasuki periode erupsi sejak 25 November 2018.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi tertutup kabut. Asap kawah tidak teramati. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah timurlaut dan timur. 
Melalui rekaman seismograf tanggal 27 Desember 2018 tercatat:- 33 kali gempa Hembusan- 10 kali gempa Harmonik
Tanggal 28 Desember 2018 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat:- 13 kali gempa Hembusan
Rekomendasi:- Masyarakat di sekitar G. Karangetang dan pengunjung/wisatawan agar tidak melakukan pendakian dan tidak beraktivitas di dalam radius 2.5 km dari Kawah 2 (kawah utara) dan Kawah Utama (kawah Selatan) ke arah Utara-Timur-Selatan-Barat dan radius 3 km ke arah Baratlaut.- Masyarakat yang tinggal di sekitar bantaran sungai-sungai yang berhulu dari puncak G. Karangetang agar meningkatkan kesiapsiagaan dari potensi ancaman lahar hujan dan banjir bandang yang dapat mengalir hingga ke pantai.- Masyarakat disekitar G. Karangetang dianjurkan agar menyiapkan masker penutup hidung dan mulut, guna mengantisipasi potensi bahaya gangguan saluran pernapasan jika terjadi hujan abu
VONA:VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 25 November 2018 pukul 13:32 WITA, terkait emisi abu vulkanik dengan ketinggian sekitar 2284 m di atas permukaan laut atau sekitar 500 m di atas puncak, angin bertiup ke arah Timur.

Gunungapi Anak Krakatau (Lampung):
Tingkat aktivitas Level III (Siaga) sejak 27 Desember 2018. Gunungapi Anak Krakatau (338 m dpl) mengalami peningkatan aktivitas vulkanik sejak 18 Juni 2018.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati dengan tinggi sekitar 2500 meter dari puncak berwarna hitam dan intensitas tebal. Angin bertiup lemah hingga kencang ke arah utara dan timur.
Melalui rekaman seismograf tanggal 27 Desember 2018 tercatat:- Tremor menerus dengan amplitudo 8 – 35 mm, dominan 25 mm- 1 kali gempa Tektonik Jauh
Rekomendasi:Masyarakat/wisatawan tidak diperbolehkan mendekati kawah dalam radius 5 km dari kawah.
VONA:VONA terakhir terkirim kode warna RED, terbit tanggal 27 Desember 2018 pukul 12:58 WIB, terkait erupsi yang berlangsung menerus dan kolom abu dengan ketinggian sekitar 7338 m diatas permukaan laut. Kolom abu bergerak ke arah timurlaut.

Gunungapi Merapi (Jawa Tengah - Yogyakarta):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Gunungapi Merapi (2968 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati dengan tinggi sekitar 300 meter dari puncak dan intensitas tipis hingga tebal. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah timurlaut dan tenggara. 
Melalui rekaman seismograf tanggal 27 Desember 2018 tercatat:- 48 kali gempa Guguran- 3 kali gempa Low Frequency - 1 kali gempa Hembusan- 1 kali gempa Tektonik Jauh
Rekomendasi:- Kegiatan pendakian G. Merapi untuk sementara tidak direkomendasikan kecuali untuk kepentingan penyelidikan dan penelitian berkaitan dengan upaya mitigasi bencana.- Radius 3 km dari puncak agar dikosongkan dari aktivitas penduduk.- Masyarakat yang tinggal di KRB III mohon meningkatkan kewaspadaan terhadap aktivitas G. Merapi.- Jika terjadi perubahan aktivitas G. Merapi yang signifikan maka status aktivitas G. Merapi akan segara ditinjau kembali.- Masyarakat agar tidak terpancing isu-isu mengenai erupsi G. Merapi yang tidak jelas sumbernya dan tetap mengikuti arahan aparat pemerintah daerah atau menanyakan langsung ke Pos Pengamatan G. Merapi terdekat melalui radio komunikasi pada frekuensi 165.075 MHz melalui website www.merapi.bgl.esdm.go.id, media sosial BPPTKG, atau ke kantor BPPTKG, Jalan Cendana No.15 Yogyakarta, telepon (0274) 514180-514192.- Pemerintah daerah direkomendasikan untuk mensosialisasikan kondisi G. Merapi saat ini kepada masyarakat.
VONA:VONA terakhir terkirim kode warna GREEN, terbit tanggal 3 Juni 2018 pukul 20:39 WIB, terkait dengan adanya aktivitas hembusan asap berwarna putih dengan ketinggian kolom asap setinggi 3768 m di atas permukaan laut atau sekitar 800 m di atas puncak.

Gunungapi Dukono (Halmahera):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Gunungapi Dukono (1229 m dpl) mengalami erupsi menerus.
Dari kemarin hingga pagi ini visual puncak gunungapi tertutup kabut. Asap kawah tidak teramati.  Angin bertiup sedang ke arah timur.
Melalui rekaman seismograf tanggal 27 Desember 2018 tercatat:- 8 kali gempa Letusan- 1 kali gempa Tektonik Lokal- 7 kali gempa Tektonik Jauh- Tremor Menerus terekam dengan amplitudo 0.5 – 24 mm (dominan 2 mm)
Rekomendasi:Masyarakat di sekitar G. Dukono dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati Kawah Malupang Warirang di dalam radius 2 km.
VONA:VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 17 Desember 2018 pukul 11:27 WIT, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1629 m di atas permukaan laut atau sekitar 400 m di atas puncak. Kolom abu bergerak ke arah Selatan.

Gunungapi Ibu (Halmahera):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Gunungapi Ibu (1340 m dpl) mengalami erupsi secara menerus sejak tahun 2008.
Dari kemarin hingga pagi ini visual puncak gunungapi tertutup kabut. Asap kawah tidak teramati. Angin bertiup sedang hingga kencang ke arah timur.
Melalui rekaman seismograf tanggal 27 Desember 2018 tercatat:- 42 x gempa Letusan- 36  x gempa Hembusan- 12 x gempa Guguran- 1 x gempa Terasa, skala I-II MMI
Rekomendasi:Masyarakat di sekitar G. Ibu dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati di dalam radius 2 km, dan perluasan sektoral berjarak 3,5 km ke arah bukaan di bagian utara dari kawah aktif G. Ibu.
VONA:VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 11 Desember 2018 pukul 13:57 WIT terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1825 m di atas permukaan laut atau sekitar 500 m di atas puncak.Kolom abu bergerak ke arah Selatan.

Gunungapi Gamalama (Maluku Utara):
Tingkat aktivitas Level II (Waspada). Gamalama (1715 m dpl) mengalami erupsi minor pada tanggal 4 Oktober 2018 pukul 11:52 WIT dengan tinggi kolom abu teramati mencapai 250 meter diatas puncak atau 1965 m diatas permukaan laut.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi tertutup kabut. Asap kawah tidak teramati. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah selatan dan tenggara.
Melalui rekaman seismograf tanggal 27 Desember 2018 tercatat:- 5 kali gempa Hembusan- 2 kali gempa Vulkanik Dalam- 1 kali gempa Tektonik Lokal- 7 kali gempa Tektonik Jauh - 2 kali gempa Getaran Banjir
Rekomendasi:Masyarakat di sekitar G.Gamalama dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas di dalam radius 1,5 km dari kawah puncak G.GamalamaPada musim hujan, masyarakat yang tinggal di sekitar aliran sungai yang berhulu di G.Gamalama agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar.
VONA:VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 10 Oktober 2018 pukul 19:26 WIT, terkait hembusan asap kawah menerus sekitar 1725 m di atas permukaan laut atau sekitar 10 m diatas puncak.
Untuk Gunungapi Status Normal: Agar masyarakat/wisatawan/pendaki tidak bermalam dan berkemah di kawah untuk menghindari potensi ancaman gas beracun.

2. Gerakan Tanah

Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan  Desember  2018  yang dibandingkan bulan  November 2018,   umumnya potensinya mengalami peningkatan dan semakin meluas  ke sebagian besar wilayah Indonesia  Sumatera , Jawa Bagian Barat dan Tengah, Sulawesi , Kalimantan, Maluku, NTB, NTT, dan Papua
Gerakan tanah terakhir terjadi :
1. Kabupaten Wonosobo, Provinsi Jawa Tengah 2. Kabupaten Boyolali, Provinsi Jawa Tengah 3. Kabupaten Wonosobo, Provinsi Jawa Tengah 
Penyebab: Penyebab gerakan tanah diperkirakan diantaranya kemiringan lereng yang terjal, tanah lapukan yang tebal, gembur dan sarang serta mudah menyerap air, serta dipicu oleh curah hujan yang tinggi dan dipicu oleh curah hujan yang tinggi dengan durasi yang cukup lama di sekitar daerah bencana. 
Dampak : Gerakan tanah / tanah longsor   menyebabkan lalu lintas terhambat di Kabupaten Wonosobo, Provinsi Jawa Tengah dan  di Kabupaten Boyolali, Provinsi Jawa Tengah ; material longsor masuk ke rumah di Kabupaten Wonosobo, Provinsi Jawa Tengah 
Peta prakiraan potensi gerakan tanah dari Badan Geologi perlu diacu sebagai peringatan dini.  Masyarakat dapat mengunduh melalui www.vsi.esdm.go.id.

3. Gempa Bumi

Laporan Harian Tim TD Tsunami Selat Sunda Badan Geologi
=Kamis 27 Desember 2018=
1. Mendampingi Kepala Badan Geologi pers rilis tentang aktivitas gunungapi Anak Krakatau dan tsunami.
2. Diskusi dan sosialisasi tentang tsunami dengan masyarakat Kp Dukuh, Ds Sukanegara, Carita.
3. Melakukan pemeriksaan dan pengukuran landaan tsunami di Kec Panimbang, Labuan, Carita dan Cinangka dengan hasil sebagai berikut:-Ds Mekarsari, Kec. Panimbang: Flow Depth (FD) 100 cm, Run up distance (RD) 41 m.-Kp Sinarlaut, Kec Panimbang : FD 96 cm dan 56 cm, RD 102 m.-Kota Kec Labuan : FD 130 cm, RD 85 m.-Hotel Bellmone, Pejamben, Kec Carita : FD 310 cm, RD 105 m.-BTS smartfren, Sukanegara, Kec Carita : FD 315 cm, RD 192 m.-Kp Dukuh, Sukanegara, Kec Carita : FD 275 cm, RD 157 m.-Pasauran, Kec Cinangka: RD 60 m.

PVMBG, BADAN GEOLOGI, KESDM;
28 Desember 2018

Kasbani


Berita Terkini]]>
rivalz.m.hxh@gmail.com (Admin) Berita Terkini Fri, 28 Dec 2018 11:17:07 +0000
Laporan Kebencanaan Geologi 27 Desember 2018 (06:00 WIB) http://bgl.esdm.go.id/index.php/berita-terkini/1584-laporan-kebencanaan-geologi-27-desember-2018-0600-wib http://bgl.esdm.go.id/index.php/berita-terkini/1584-laporan-kebencanaan-geologi-27-desember-2018-0600-wib I. SUMMARY

Hari ini, Rabu 26 Desember 2018, Bencana Geologi yang terjadi sbb:

1. Gunungapi

Gunungapi Sinabung (Sumatera Utara):
Tingkat aktivitas Level IV (AWAS). G. Sinabung (2460 m dpl) mengalami erupsi menerus sejak tahun 2013.Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah setinggi 200 meter, berwarna putih, dengan intensitas tipis hingga tebal. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah timur dan tenggara.
Melalui rekaman seismograf tanggal 25 Desember 2018 tercatat:- 4 kali gempa Hembusan- 2 kali gempa Tektonik Lokal
Rekomendasi:- Masyarakat/pengunjung agar tidak melakukan aktivitas di dalam radius 3 km untuk sektor Utara -Barat, 4 km untuk sektor Selatan - Barat, dan dalam jarak 7 km untuk sektor Selatan - Tenggara, didalam jarak 6 km untuk sektor Tenggara - Timur serta didalam jarak 4 km untuk sektor Utara -Timur.- Masyarakat yang bermukim di sepanjang aliran sungai yang berhulu di Gunung Sinabung agar mewaspadai potensi banjir lahar terutama pada saat terjadi hujan lebat.
VONA:VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 22 Juni 2018 pukul 09:06 WIB, terkait letusan dengan ketinggian kolom abu sekitar 3460 m di atas permukaan laut atau sekitar 1000 m di atas puncak, angin bertiup ke arah barat-selatan.

Gunungapi Agung (Bali):
Tingkat aktivitas Level III (Siaga). G. Agung (3142 m dpl) mengalami erupsi sejak 21 November 2017.Dari kemarin hingga pagi ini visual cuaca visual cuaca berawan hingga hujan, angin lemah ke arah timur dan barat. Gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut 0-III. Asap kawah utama teramati setinggi 400 m dari puncak, berwarna putih dengan intesitas sedang. Melalui rekaman seismograf tanggal 25 Desember 2018 tercatat:- 1 kali gempa Vulkanik Dalam- 3 kali gempa Tektonik Jauh
Kegempaan tanggal 26 Desember 2018 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat:- 2 kali gempa Vulkanik Dalam- 1 kali gempa Tektonik Lokal
Rekomendasi:- Masyarakat di sekitar G. Agung dan pendaki/pengunjung/wisatawan agar tidak berada, tidak melakukan pendakiaan tidak melakukan aktivitas apapun di Zona Perkiraan Bahaya yaitu di seluruh area di dalam radius 4 km dari Kawah Puncak G. Agung.- Zona Perkiraan Bahaya sifatnya dinamis dan terus dievaluasi dan dapat diubah sewaktu-waktu mengikuti perkembangan data pengamatan G. Agung yang paling aktual/terbaru.- Masyarakat yang bermukim dan beraktivitas di sekitar aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar hujan yang dapat terjadi terutama pada musim hujan dan jika material erupsi masih terpapar di area puncak. Area landaan aliran lahar hujan mengikuti aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung.- Status Level III (Siaga) hanya berlaku di dalam radius 4 km seperti tersebut di atas, di luar area tersebut aktivitas dapat berjalan normal dan masih tetap aman, namun harus tetap menjaga kewaspadaan.
VONA:VONA terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 27 Juli 2018 pukul 14:27 WITA, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu 5142 m di atas permukaan laut atau sekitar 2000 m di atas puncak, angin bertiup ke arah barat.

Gunungapi Soputan (Sulawesi Utara):
Tingkat aktivitas Level III (SIAGA). Gunungapi Soputan (1784 m dpl) mengalami peningkatan aktivitas vulkanik.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi tertutup kabut. asap kawah tidak teramati. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah tenggara.
Melalui rekaman seismograf tanggal 25 Desember 2018 tercatat:- 9 kali gempa Guguran- 5 kali gempa Hembusan- 3 kali gempa Tektonik Jauh
Tanggal 26 Desember 2018 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat:- 2 kali gempa Guguran- 4 kali gempa Hembusan
Rekomendasi:Masyarakat agar tidak beraktivitas di dalam radius 4 km dari puncak G. Soputan dan dalam wilayah sektor arah barat-baratdaya sejauh 6,5 km yang merupakan daerah bukaan kawah, guna menghindari ancaman guguran lava dan awan panas guguran
VONA:VONA terkirim kode warna RED, terbit tanggal 16 Desember 2018 pukul 05:54 WITA, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu maksimum 8809 meter di atas permukaan laut atau sekitar 7000 meter di atas puncak.

Gunungapi Karangetang (Sulawesi Utara):
Tingkat aktivitas Level III (SIAGA). G. Karangetang (2460 m dpl) kembali memasuki periode erupsi sejak 25 November 2018.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi tertutup kabut. Asap kawah tidak teramati. Angin bertiup lemah hingga kencang ke arah timur. 
Melalui rekaman seismograf tanggal 25 Desember 2018 tercatat:- 36 kali gempa Hembusan- 23 kali gempa Harmonik- 3 kali gempa Tektonik Jauh
Tanggal 26 Desember 2018 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat:- 11 kali gempa Hembusan- 2 kali gempa Harmonik
Rekomendasi:- Masyarakat di sekitar G. Karangetang dan pengunjung/wisatawan agar tidak melakukan pendakian dan tidak beraktivitas di dalam radius 2.5 km dari Kawah 2 (kawah utara) dan Kawah Utama (kawah Selatan) ke arah Utara-Timur-Selatan-Barat dan radius 3 km ke arah Baratlaut.- Masyarakat yang tinggal di sekitar bantaran sungai-sungai yang berhulu dari puncak G. Karangetang agar meningkatkan kesiapsiagaan dari potensi ancaman lahar hujan dan banjir bandang yang dapat mengalir hingga ke pantai.- Masyarakat disekitar G. Karangetang dianjurkan agar menyiapkan masker penutup hidung dan mulut, guna mengantisipasi potensi bahaya gangguan saluran pernapasan jika terjadi hujan abu
VONA:VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 25 November 2018 pukul 13:32 WITA, terkait emisi abu vulkanik dengan ketinggian sekitar 2284 m di atas permukaan laut atau sekitar 500 m di atas puncak, angin bertiup ke arah Timur.

Gunungapi Anak Krakatau (Lampung):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Gunungapi Anak Krakatau (338 m dpl) mengalami peningkatan aktivitas vulkanik sejak 18 Juni 2018.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi tertutup kabut. Asap kawah tidak teramati. Angin bertiup lemah hingga kencang ke arah timur.
Melalui rekaman seismograf tanggal 25 Desember 2018 tercatat:- Tremor menerus dengan amplitudo 8-40 mm, dominan 20 mm
Rekomendasi:Masyarakat/wisatawan tidak diperbolehkan mendekati kawah dalam radius 2 km dari kawah.
VONA:VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 24 Desember 2018, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu yang tidak dapat teramati karena faktor cuaca. Kolom abu bergerak ke arah utara.

Gunungapi Merapi (Jawa Tengah - Yogyakarta):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Gunungapi Merapi (2968 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap tidak teramati. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah timur laut dan tenggara. 
Melalui rekaman seismograf tanggal 25 Desember 2018 tercatat:- 38 kali gempa Guguran- 1 kali gempa Low Frequency - 2 kali gempa Hybrid - 7 kali gempa Hembusan- 1 kali gempa Tektonik Jauh
Rekomendasi:- Kegiatan pendakian G. Merapi untuk sementara tidak direkomendasikan kecuali untuk kepentingan penyelidikan dan penelitian berkaitan dengan upaya mitigasi bencana.- Radius 3 km dari puncak agar dikosongkan dari aktivitas penduduk.- Masyarakat yang tinggal di KRB III mohon meningkatkan kewaspadaan terhadap aktivitas G. Merapi.- Jika terjadi perubahan aktivitas G. Merapi yang signifikan maka status aktivitas G. Merapi akan segara ditinjau kembali.- Masyarakat agar tidak terpancing isu-isu mengenai erupsi G. Merapi yang tidak jelas sumbernya dan tetap mengikuti arahan aparat pemerintah daerah atau menanyakan langsung ke Pos Pengamatan G. Merapi terdekat melalui radio komunikasi pada frekuensi 165.075 MHz melalui website www.merapi.bgl.esdm.go.id, media sosial BPPTKG, atau ke kantor BPPTKG, Jalan Cendana No.15 Yogyakarta, telepon (0274) 514180-514192.- Pemerintah daerah direkomendasikan untuk mensosialisasikan kondisi G. Merapi saat ini kepada masyarakat.
VONA:VONA terakhir terkirim kode warna GREEN, terbit tanggal 3 Juni 2018 pukul 20:39 WIB, terkait dengan adanya aktivitas hembusan asap berwarna putih dengan ketinggian kolom asap setinggi 3768 m di atas permukaan laut atau sekitar 800 m di atas puncak.

Gunungapi Dukono (Halmahera):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Gunungapi Dukono (1229 m dpl) mengalami erupsi menerus.
Dari kemarin hingga pagi ini visual puncak gunungapi tertutup kabut. Asap kawah tidak teramati.  Angin bertiup lemah hingga kencang ke arah timur laut dan timur.
Melalui rekaman seismograf tanggal 25 Desember 2018 tercatat:- 1 kali gempa Vulkanik Dalam- 1 kali gempa Tektonik Lokal- 4 kali gempa Tektonik Jauh- Tremor Menerus terekam dengan amplitudo 0.5 – 4 mm (dominan 1 mm)
Rekomendasi:Masyarakat di sekitar G. Dukono dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati Kawah Malupang Warirang di dalam radius 2 km.
VONA:VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 17 Desember 2018 pukul 11:27 WIT, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1629 m di atas permukaan laut atau sekitar 400 m di atas puncak. Kolom abu bergerak ke arah Selatan.

Gunungapi Ibu (Halmahera):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Gunungapi Ibu (1340 m dpl) mengalami erupsi secara menerus sejak tahun 2008.
Dari kemarin hingga pagi ini visual puncak gunungapi tertutup kabut. Asap kawah tidak teramati. Angin bertiup perlahan ke arah utara dan timur.
Melalui rekaman seismograf tanggal 24 Desember 2018 tercatat:- 88 x gempa letusan, amp: 15 - 38 mm, durasi: 17- 50 dtk,- 58  x gempa hembusan, amp: 5 - 14 mm, durasi: 10  - 30 dtk,- 16 x gempa guguran, amp: 5 - 13  mm, durasi: 15 - 75  dtk,
Rekomendasi:Masyarakat di sekitar G. Ibu dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati di dalam radius 2 km, dan perluasan sektoral berjarak 3,5 km ke arah bukaan di bagian utara dari kawah aktif G. Ibu.
VONA:VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 11 Desember 2018 pukul 13:57 WIT terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1825 m di atas permukaan laut atau sekitar 500 m di atas puncak.Kolom abu bergerak ke arah Selatan.

Gunungapi Gamalama (Maluku Utara):
Tingkat aktivitas Level II (Waspada). Gamalama (1715 m dpl) mengalami erupsi minor pada tanggal 4 Oktober 2018 pukul 11:52 WIT dengan tinggi kolom abu teramati mencapai 250 meter diatas puncak atau 1965 m diatas permukaan laut.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi tertutup kabut. Asap kawah tidak teramati. Angin bertiup sedang hingga kencang ke arah utara.
Melalui rekaman seismograf tanggal 25 Desember 2018 tercatat:- 4 kali gempa Hembusan- 3 kali gempa Vulkanik Dalam- 3 kali gempa Tektonik Lokal- 3 kali gempa Terasa- 6 kali gempa Tektonik Jauh - 3 kali Getaran Banjir/Lahar Hujan
Rekomendasi:Masyarakat di sekitar G.Gamalama dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas di dalam radius 1,5 km dari kawah puncak G.GamalamaPada musim hujan, masyarakat yang tinggal di sekitar aliran sungai yang berhulu di G.Gamalama agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar.
VONA:VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 10 Oktober 2018 pukul 19:26 WIT, terkait hembusan asap kawah menerus sekitar 1725 m di atas permukaan laut atau sekitar 10 m diatas puncak.
Untuk Gunungapi Status Normal: Agar masyarakat/wisatawan/pendaki tidak bermalam dan berkemah di kawah untuk menghindari potensi ancaman gas beracun.

2. Gerakan Tanah

Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan  Desember  2018  yang dibandingkan bulan  November 2018,   umumnya potensinya mengalami peningkatan dan semakin meluas  ke sebagian besar wilayah Indonesia  Sumatera , Jawa Bagian Barat dan Tengah, Sulawesi , Kalimantan, Maluku, NTB, NTT, dan Papua
Gerakan tanah terakhir terjadi :
1.Kabupaten Garut, Provinsi Jawa Barat.
Penyebab: Penyebab gerakan tanah diduga akibat kemiringan lereng yang terjal, kondisi tanah pelapukan yang labil, dan dipicu oleh curah hujan yang tinggi dengan durasi yang cukup lama di sekitar daerah bencana. 
Dampak : Gerakan tanah / tanah longsor   menyebabkan lalu lintas terhambat  di Jalur nasional lintas Malangbong-Bandung di Kabupaten Garut, Jawa Barat.
Peta prakiraan potensi gerakan tanah dari Badan Geologi perlu diacu sebagai peringatan dini.  Masyarakat dapat mengunduh melalui www.vsi.esdm.go.id.

3. Gempa Bumi

Laporan Harian TTD Tsunami Selat Sunda
=Selasa 25 Desember 2018=
1. Melakukan pemeriksaan dan pengukuran dampak tsunami di Kab. Serang dan Pandeglang bersama Tim Dinas ESDM Provinsi Banten.
2. Diskusi dan sosialisasi tentang gempabumi dan tsunami dengan Kades Bandulu kec. Anyer dan masyarakat Taving Muhara kec Cinangka, kab Serang.
3. Melayani wawancara dengan wartawan Harian Kompas tentang tsunami lewat telepon.
4. Batas terjadinya tsunami di Kp Labuan Paku, Kec.  Anyer, Serang. Disini tsunami hanya teramati di garis pantai dan merusak beberapa warung penduduk di garis pantai.
5.  Hasil pengukuran landaan tsunami sebagai berikut: Pantai Kp Taving Muhara,  Cinangka, Serang : Flow Depth (FD) 9 cm, Run up distance (RD) 84  m.Kp Cibenda, Carita, Pandeglang : FD 330 cm, 80 cm, 310 cm, RD 137 m.Resort Tanjung Lesung, Pandeglang: RD 232 m, FD di hotel bagian belakang 155 cm. Korban di resort Tanjung Lesung sekitar 106 org karena ada acara PLN dan Kemenpora.
6. Besok (26 Desember) TTD Tsunami Selat Sunda akan melanjutkan pengamatan dan pengukuran landaan tsunami di daerah Panimbang dan Sumur. Akses ke daerah Sumur tidak bisa ditempuh lewat jalan pantai karean rusak oleh tsunami. TTD Badan Geologi akan mencoba melewati daerah Cibaliung dan daerah gunung. Setelah itu TTD Badan Geologi akan kembali ke Bandung.
Demikian laporan ini dibuat, semoga bermanfaat.
TTD Tsunami Selat Sunda (Supartoyo, Deden Junaedi, Ayub Samsudin)

Gempa bumi di barat laut Ternate, Maluku Utara
Informasi Gempa Bumi:Gempa bumi terjadi pada hari Selasa tanggal 25 Desember 2018 pukul 14:18:21 WIB. Menurut BMKG pusat gempa bumi berada pada koordinat 1,21°LU dan 126,44°BT, dengan magnituda 5,4 SR pada kedalaman 10 km, berada pada jarak 113 km barat laut ternate, Maluku Utara. Menurut GFZ (Jerman) pusat gempa bumi berada pada koordinat 1,17°LU dan 126,47°BT, dengan magnituda 5,3 SR pada kedalaman 39 km. 
Kondisi geologi daerah terkena gempa bumi:Di wilayah Provinsi Maluku Utara goncangan gempa bumi akan terasa kuat pada daerah yang tersusun oleh endapan Kuarter berupa endapan aluvial, endapan pantai, endapan rombakan gunungapi serta endapan berumur Tersier yang telah mengalami pelapukan. Endapan tersebut bersifat urai, lepas, belum terkonsolidasi (unconsolidated) dan memperkuat efek goncangan gempa bumi.
Penyebab gempa bumi;Diperkirakan berkaitan dengan aktivitas zona subduksi Punggungan Mayu di sebelah barat Ternate.
Dampak gempa bumi:Belum ada laporan korban jiwa maupun kerusakan bangunan yang diakibatkan oleh gempa bumi tersebut.Gempa bumi ini tidak  menimbulkan tsunami.
Rekomendasi: (1) Masyarakat dihimbau untuk tetap tenang dan mengikuti arahan serta informasi dari BPBD setempat. Jangan terpancing oleh isu yang tidak bertanggung jawab mengenai gempa bumi dan tsunami. (2) Masyarakat agar tetap waspada dengan kejadian gempa bumi susulan yang diharapkan lebih kecil.

2. Gerakan Tanah

Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan Desember 2018 yang dibandingkan bulan November  2018  akan   mengalami peningkatan potensinya di sebagian besar wilayah indonesia  mulai dari  sebagian besar pulau Pulau Sumatra , sebagian besar pulau jawa utamanya Jawa Barat dan Tengah, Kalimantan, Bali,  NTB, NTT, Maluku dan  Papua . Wilayah Indonesia yang  secara umum tetap  perlu diwaspadai   utamanya di daerah wilayah jalur jalan dan pemukiman di perbukitan, pegunungan,  dan sepanjang aliran sungai sepanjang wilayah antara lain  wilayah Sumatera bagian Barat dan Tengah, Wilayah Jawa bagian  Barat, Tengah dan Timur, Kalimantan Bagian Barat dan Tengah,  Sulawesi bagian, Selatan,Barat , Utara, dan Tengah , Maluku , NTB, NTT dan wilayah Papua. 
Kejadian gerakan tanah / tanah longsor dalam 1 minggu   terjadi di:1.Kabupaten Garut, Provinsi Jawa Barat*, 2.Kabupaten Wonosobo, Provinsi Jawa Tengah, 3. Kabupaten Jembrana, Provinsi Bali, 4.  Kota Sabang, Provinsi Aceh, 5.  Kabupaten Deli Serdang, Provinsi Sumatera Utara, 6.Kabupaten Gunungkidul, Provinsi DI Yogyakarta, 7.Kabupaten Jembrana , Provinsi Bali, 8.Kabupaten Jember, Provinsi Jawa Timur, 9. Kabupaten Konawe, Provinsi  Sulawesi Tenggara,  10.Kabupaten Bener Meriah, Provinsi  Aceh, 11. Kabupaten Ciamis, Provinsi Jawa Barat, 12. Pamekasan,  Provinsi Jawa Timur. 

*Kejadian gerakan tanah terbaru: 

1.Kabupaten Garut, Provinsi Jawa Barat.
Longsor terjadi pukul 04.00 WIB di Kampung Binarum, Desa Sukaratu, Kecamatan Malangbong, Kabupaten Garut . Tanah tebing yang tergerus longsor itu, diperkirakan tingginya 20 meter dan lebarnya 15 meter.Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Garut, Dadi Djakaria, mengatakan longsoran tanah tebing itu hanya menimpa badan jalan dan tidak merenggut korban jiwa.
Sumber  : https://www.cendananews.com/2018/12/longsor-tutup-jalur-malangbong-bandung.html?utm_source=dlvr.it&utm_medium=twitterhttp://jabar.tribunnews.com/2018/12/25/breaking-news-longsor-tutup-badan-jalan-bandung-menuju-tasikmalaya-di-malangbonghttps://ivoox.id/longsor-di-malangbong-ganggu-jalur-bandung-tasik/
Penyebab gerakan tanah diduga akibat kemiringan lereng yang terjal, kondisi tanah pelapukan yang labil, dan dipicu oleh curah hujan yang tinggi dengan durasi yang cukup lama di sekitar daerah bencana. Tipe gerakan tanah merupakan longsoran bahan rombakan.
Rekomendasi :
• Pembersihan material longsoran agar tidak dilaksanakan pada saat dan setelah turun hujan karena dikhawatirkan adanya longsor susulan.
• Masyarakat dan pengguna jalan yang melintas harap meningkatkan kewaspadaan ketika melintasi jalur rawan gerakan tanah.
• Pemasangan rambu rawan bencana gerakan tanah untuk meningkatkan kewaspadaan.
• Melandaikan lereng, mengatur drainase dan memperkuat kestabilan lereng dengan pembuatan penahan lereng dengan fondasi menembus batuan yang keras.
• Saluran air permukaan segera dibenahi agar lebih kedap air dan mampu menampung air jika debit air meningkat saat hujan.
• Penanaman pepohonan berakar kuat dan dalam untuk memperkuat lereng.
• Penggalian atau pemotongan lereng harap tidak terlalu curam dan memenuhi kaidah keteknisan tanah dan batuan.
• Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana gerakan tanah.
• Masyarakat setempat dihimbau untuk selalu mengikuti arahan dari pemerintah daerah / BPBD setempat.

PVMBG, BADAN GEOLOGI, KESDM;  26 Desember 2018


Kasbani[09:51, 12/27/2018] Kasbani Kapus Pvmbg: PERS RILIS AKTIVITAS GUNUNG ANAK KRAKATAU, KAMIS 27 DESEMBER 2018
Gunungapi Anak Krakatau terletak di Selat Sunda adalah gunungapi strato tipe A dan merupakan gunungapi muda yang muncul dalam kaldera, pasca erupsi paroksimal tahun 1883 dari kompleks vulkanik Krakatau. Aktivitas erupsi pasca pembentukan dimulai sejak tahun 1927, pada saat tubuh gunungapi masih di bawah permukaan laut. Tubuh Anak Krakatau muncul ke permukaan laut sejak tahun 1929. Sejak saat itu dan hingga kini G. Anak Krakatau berada dalam fasa konstruksi (membangun tubuhnya hingga besar). Saat ini G. Anak Krakatau mempunyai elevasi tertinggi 338 meter dari muka laut (pengukuran September 2018). Karakter letusannya adalah erupsi magmatik yang berupa erupsi ekplosif lemah (strombolian) dan erupsi efusif berupa aliran lava. Pada tahun 2016 letusan terjadi pada 20 Juni 2016, sedangkan pada tahun 2017 letusan terjadi pada tanggal 19 Februari 2017 berupa letusan strombolian. Sejak tanggal 29 Juni 2018, G. Anak Krakatau kembali meletus hingga tanggal 22 Desember  berupa letusan strombolian.Tanggal 22 Desember, seperti biasa hari-hari sebelumnya, G. Anak Krakatau terjadi letusan. Secara visual, teramati letusan dengan tinggi asap berkisar 300 - 1500 meter di atas puncak kawah. Secara kegempaan, terekam gempa tremor menerus dengan amplitudo overscale (58 mm). Pukul  21.03 WIB terjadi letusan, selang beberapa lama ada info tsunami. Berdasarkan citra satelit yang diterima oleh PVMBG, sebagian besar dari tubuh G. Anak Krakatau telah hilang dilongsorkan, yang kemudian diketahui menyebabkan tsunami di beberapa wilayah di Provinsi Lampung dan Banten.Pasca kejadian tsunami tersebut, aktivitas G. Anak Krakatau masih tetap tinggi. Secara visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah utama berwarna kelabu hingga hitam dengan intensitas tipis hingga tebal tinggi sekitar 500 meter dari puncak dengan angin bertiup lemah hingga sedang ke arah utara dan barat daya. Kegempaan masih didominasi oleh tremor menerus dengan amplitudo mencapai 32 mm (dominan 25 mm).Pada tanggal 26 Desember dilaporkan hujan abu vulkanik di beberapa wilayah, yakni di Cilegon, Anyer danSerang. Tim Tanggap Darurat dari PVMBG langsung melakukan cek lapangan, untuk mengkonfirmasikan kejadian tersebut serta untuk menyampling abu vulkanik yang jatuh yang selanjutnya akan dianalisis di Kantor PVMBG.Potensi Bencana Erupsi G. Anak Krakatau, Peta Kawasan Rawan Bencana (KRB) menunjukkan hampir seluruh tubuh G. Anak Krakatau yang berdiameter ± 2 Km merupakan kawasan rawan bencana. Potensi bahaya dari aktivitas G. Anak Krakatau saat ini adalah lontaran material pijar, aliran lava dari pusat erupsi dan awan panas yang mengarah ke selatan. Sedangkan sebaran abu vulkanik tergantung dari arah dan kecepatan angin.Berdasarkan hasil pengamatan dan analisis data visual maupun instrumental hingga tanggal 27 Desember 2018 pukul 05:00 WIB, tingkat aktivitas G. Anak Krakatau dinaikkan dari Level II  (Waspada) menjadi Level III (Siaga) terhitung pukul 06:00 WIB. Sehubungan dengan tingkat aktivitas Level III (Siaga) tersebut, direkomendasikan kepada masyarakat tidak diperbolehkan mendekati G. Anak Krakatau dalam radius 5 km dari kawah. Saat hujan abu turun, masyarakat diminta untuk mengenakan masker dan kacamata bila beraktivitas di luar rumah. Masyarakat di wilayah pantai Provinsi Banten dan Lampung harap tenang dan dapat melakukan kegiatan seperti biasa dengan senantiasa mengikuti arahan BPBD setempat.Apabila ada perubahan aktivitas kegiatan, status akan disesuaikan.

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana GeologiBadan GeologiKementerian Energi dan Sumber Daya Mineral

LAPORAN KEBENCANAAN GEOLOGI

27 Desember 2018 (06:00 WIB)

Hari ini, Kamis 27 Desember 2018, Bencana Geologi yang terjadi sbb:

1. Gunungapi

Gunungapi Sinabung (Sumatera Utara):
Tingkat aktivitas Level IV (AWAS). G. Sinabung (2460 m dpl) mengalami erupsi menerus sejak tahun 2013.Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah setinggi 200 meter, berwarna putih, dengan intensitas tipis hingga tebal. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah timur dan barat.
Melalui rekaman seismograf tanggal 26 Desember 2018 tercatat:- 2 kali gempa Hembusan- 2 kali gempa Tektonik Lokal-3 kali gempa Tektonik Jauh
Rekomendasi:- Masyarakat/pengunjung agar tidak melakukan aktivitas di dalam radius 3 km untuk sektor Utara -Barat, 4 km untuk sektor Selatan - Barat, dan dalam jarak 7 km untuk sektor Selatan - Tenggara, didalam jarak 6 km untuk sektor Tenggara - Timur serta didalam jarak 4 km untuk sektor Utara -Timur.- Masyarakat yang bermukim di sepanjang aliran sungai yang berhulu di Gunung Sinabung agar mewaspadai potensi banjir lahar terutama pada saat terjadi hujan lebat.
VONA:VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 22 Juni 2018 pukul 09:06 WIB, terkait letusan dengan ketinggian kolom abu sekitar 3460 m di atas permukaan laut atau sekitar 1000 m di atas puncak, angin bertiup ke arah barat-selatan.

Gunungapi Agung (Bali):
Tingkat aktivitas Level III (Siaga). G. Agung (3142 m dpl) mengalami erupsi sejak 21 November 2017.Dari kemarin hingga pagi ini visual cuaca visual cuaca berawan hingga mendung, angin lemah hingga sedang ke arah timurlaut dan barat. Gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut 0-III. Asap kawah utama teramati setinggi 400 m dari puncak, berwarna putih dengan intesitas tipis. Melalui rekaman seismograf tanggal 26 Desember 2018 tercatat:- 5 kali gempa Vulkanik Dangkal- 1 kali gempa Tektonik Lokal- 8 kali gempa Tektonik Jauh
Kegempaan tanggal 27 Desember 2018 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat:Nihil
Rekomendasi:- Masyarakat di sekitar G. Agung dan pendaki/pengunjung/wisatawan agar tidak berada, tidak melakukan pendakiaan tidak melakukan aktivitas apapun di Zona Perkiraan Bahaya yaitu di seluruh area di dalam radius 4 km dari Kawah Puncak G. Agung.- Zona Perkiraan Bahaya sifatnya dinamis dan terus dievaluasi dan dapat diubah sewaktu-waktu mengikuti perkembangan data pengamatan G. Agung yang paling aktual/terbaru.- Masyarakat yang bermukim dan beraktivitas di sekitar aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar hujan yang dapat terjadi terutama pada musim hujan dan jika material erupsi masih terpapar di area puncak. Area landaan aliran lahar hujan mengikuti aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung.- Status Level III (Siaga) hanya berlaku di dalam radius 4 km seperti tersebut di atas, di luar area tersebut aktivitas dapat berjalan normal dan masih tetap aman, namun harus tetap menjaga kewaspadaan.
VONA:VONA terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 27 Juli 2018 pukul 14:27 WITA, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu 5142 m di atas permukaan laut atau sekitar 2000 m di atas puncak, angin bertiup ke arah barat.

Gunungapi Soputan (Sulawesi Utara):
Tingkat aktivitas Level III (SIAGA). Gunungapi Soputan (1784 m dpl) mengalami peningkatan aktivitas vulkanik.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi tertutup kabut. asap kawah tidak teramati. Angin bertiup lemah hingga kencang ke arah timur dan tenggara.
Melalui rekaman seismograf tanggal 26 Desember 2018 tercatat:- 11 kali gempa Guguran- 5 kali gempa Hembusan
Tanggal 27 Desember 2018 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat:- 13 kali gempa Guguran- 1 kali gempa Hembusan
Rekomendasi:Masyarakat agar tidak beraktivitas di dalam radius 4 km dari puncak G. Soputan dan dalam wilayah sektor arah barat-baratdaya sejauh 6,5 km yang merupakan daerah bukaan kawah, guna menghindari ancaman guguran lava dan awan panas guguran
VONA:VONA terkirim kode warna RED, terbit tanggal 16 Desember 2018 pukul 05:54 WITA, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu maksimum 8809 meter di atas permukaan laut atau sekitar 7000 meter di atas puncak.

Gunungapi Karangetang (Sulawesi Utara):
Tingkat aktivitas Level III (SIAGA). G. Karangetang (2460 m dpl) kembali memasuki periode erupsi sejak 25 November 2018.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi tertutup kabut. Asap kawah tidak teramati. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah timur. 
Melalui rekaman seismograf tanggal 26 Desember 2018 tercatat:- 40 kali gempa Hembusan- 13 kali gempa Harmonik- 2 kali gempa Tektonik Jauh
Tanggal 27 Desember 2018 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat:- 15 kali gempa Hembusan- 3 kali gempa Harmonik
Rekomendasi:- Masyarakat di sekitar G. Karangetang dan pengunjung/wisatawan agar tidak melakukan pendakian dan tidak beraktivitas di dalam radius 2.5 km dari Kawah 2 (kawah utara) dan Kawah Utama (kawah Selatan) ke arah Utara-Timur-Selatan-Barat dan radius 3 km ke arah Baratlaut.- Masyarakat yang tinggal di sekitar bantaran sungai-sungai yang berhulu dari puncak G. Karangetang agar meningkatkan kesiapsiagaan dari potensi ancaman lahar hujan dan banjir bandang yang dapat mengalir hingga ke pantai.- Masyarakat disekitar G. Karangetang dianjurkan agar menyiapkan masker penutup hidung dan mulut, guna mengantisipasi potensi bahaya gangguan saluran pernapasan jika terjadi hujan abu
VONA:VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 25 November 2018 pukul 13:32 WITA, terkait emisi abu vulkanik dengan ketinggian sekitar 2284 m di atas permukaan laut atau sekitar 500 m di atas puncak, angin bertiup ke arah Timur.

Gunungapi Anak Krakatau (Lampung):
Tingkat aktivitas Level III (SIAGA). Gunungapi Anak Krakatau (338 m dpl) mengalami peningkatan aktivitas vulkanik sejak 18 Juni 2018 dan tingkat aktivitasnya dinaikkan dari Level II (WASPADA) ke Level III (SIAGA) pada 27 Desember 2018 pukul 06:00 WIB.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati dengan tinggi sekitar 700 meter dari puncak berwarna hitam dan intensitas tebal. Angin bertiup lemah hingga kencang ke arah utara dan timur.
Melalui rekaman seismograf tanggal 26 Desember 2018 tercatat:- Tremor menerus dengan amplitudo 9-35 mm, dominan 25 mm
Rekomendasi:Masyarakat/wisatawan tidak diperbolehkan mendekati kawah dalam radius 5 km dari kawah.
VONA:VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 26 Desember 2018 pukul 16:00 WIB, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu yang tidak dapat teramati karena faktor cuaca. Kolom abu bergerak ke arah utara dan timurlaut.

Gunungapi Merapi (Jawa Tengah - Yogyakarta):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Gunungapi Merapi (2968 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati dengan tinggi sekitar 20 meter dari puncak dan intensitas sedang hingga tebal. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah utara dan tenggara. 
Melalui rekaman seismograf tanggal 26 Desember 2018 tercatat:- 25 kali gempa Guguran- 2 kali gempa Low Frequency - 3 kali gempa Hybrid - 1 kali gempa Vulkanik Dalam- 3 kali gempa Hembusan
Rekomendasi:- Kegiatan pendakian G. Merapi untuk sementara tidak direkomendasikan kecuali untuk kepentingan penyelidikan dan penelitian berkaitan dengan upaya mitigasi bencana.- Radius 3 km dari puncak agar dikosongkan dari aktivitas penduduk.- Masyarakat yang tinggal di KRB III mohon meningkatkan kewaspadaan terhadap aktivitas G. Merapi.- Jika terjadi perubahan aktivitas G. Merapi yang signifikan maka status aktivitas G. Merapi akan segara ditinjau kembali.- Masyarakat agar tidak terpancing isu-isu mengenai erupsi G. Merapi yang tidak jelas sumbernya dan tetap mengikuti arahan aparat pemerintah daerah atau menanyakan langsung ke Pos Pengamatan G. Merapi terdekat melalui radio komunikasi pada frekuensi 165.075 MHz melalui website www.merapi.bgl.esdm.go.id, media sosial BPPTKG, atau ke kantor BPPTKG, Jalan Cendana No.15 Yogyakarta, telepon (0274) 514180-514192.- Pemerintah daerah direkomendasikan untuk mensosialisasikan kondisi G. Merapi saat ini kepada masyarakat.
VONA:VONA terakhir terkirim kode warna GREEN, terbit tanggal 3 Juni 2018 pukul 20:39 WIB, terkait dengan adanya aktivitas hembusan asap berwarna putih dengan ketinggian kolom asap setinggi 3768 m di atas permukaan laut atau sekitar 800 m di atas puncak.

Gunungapi Dukono (Halmahera):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Gunungapi Dukono (1229 m dpl) mengalami erupsi menerus.
Dari kemarin hingga pagi ini visual puncak gunungapi tertutup kabut. Asap kawah tidak teramati.  Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah dan timur.
Melalui rekaman seismograf tanggal 26 Desember 2018 tercatat:- 1 kali gempa Letusan- 1 kali gempa Vulkanik Dalam- 1 kali gempa Tektonik Lokal- Tremor Menerus terekam dengan amplitudo 0.5 – 5 mm (dominan 2 mm)
Rekomendasi:Masyarakat di sekitar G. Dukono dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati Kawah Malupang Warirang di dalam radius 2 km.
VONA:VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 17 Desember 2018 pukul 11:27 WIT, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1629 m di atas permukaan laut atau sekitar 400 m di atas puncak. Kolom abu bergerak ke arah Selatan.

Gunungapi Ibu (Halmahera):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Gunungapi Ibu (1340 m dpl) mengalami erupsi secara menerus sejak tahun 2008.
Dari kemarin hingga pagi ini visual puncak gunungapi tertutup kabut. Asap kawah tidak teramati. Angin bertiup sedang hingga kencang ke arah timur.
Melalui rekaman seismograf tanggal 26 Desember 2018 tercatat:- 86 x gempa Letusan- 32  x gempa Hembusan- 13 x gempa Guguran- 3 x gempa Harmonik
Rekomendasi:Masyarakat di sekitar G. Ibu dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati di dalam radius 2 km, dan perluasan sektoral berjarak 3,5 km ke arah bukaan di bagian utara dari kawah aktif G. Ibu.
VONA:VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 11 Desember 2018 pukul 13:57 WIT terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1825 m di atas permukaan laut atau sekitar 500 m di atas puncak.Kolom abu bergerak ke arah Selatan.

Gunungapi Gamalama (Maluku Utara):
Tingkat aktivitas Level II (Waspada). Gamalama (1715 m dpl) mengalami erupsi minor pada tanggal 4 Oktober 2018 pukul 11:52 WIT dengan tinggi kolom abu teramati mencapai 250 meter diatas puncak atau 1965 m diatas permukaan laut.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi tertutup kabut. Asap kawah tidak teramati. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah selatan dan timur.
Melalui rekaman seismograf tanggal 26 Desember 2018 tercatat:- 3 kali gempa Hembusan- 7 kali gempa Vulkanik Dalam- 7 kali gempa Tektonik Lokal- 7 kali gempa Tektonik Jauh 
Rekomendasi:Masyarakat di sekitar G.Gamalama dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas di dalam radius 1,5 km dari kawah puncak G.GamalamaPada musim hujan, masyarakat yang tinggal di sekitar aliran sungai yang berhulu di G.Gamalama agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar.
VONA:VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 10 Oktober 2018 pukul 19:26 WIT, terkait hembusan asap kawah menerus sekitar 1725 m di atas permukaan laut atau sekitar 10 m diatas puncak.
Untuk Gunungapi Status Normal: Agar masyarakat/wisatawan/pendaki tidak bermalam dan berkemah di kawah untuk menghindari potensi ancaman gas beracun.

2. Gerakan Tanah

Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan  Desember  2018  yang dibandingkan bulan  November 2018,   umumnya potensinya mengalami peningkatan dan semakin meluas  ke sebagian besar wilayah Indonesia  Sumatera , Jawa Bagian Barat dan Tengah, Sulawesi , Kalimantan, Maluku, NTB, NTT, dan Papua
Gerakan tanah terakhir terjadi :
1. Kabupaten Boyolali, Provinsi Jawa Tengah 2. Kabupaten Lebak, Provinsi Banten3. Kabupaten Kuningan, Provinsi Jawa Barat 4. Kabupaten Magelang, Provinsi Jawa Tengah
Penyebab: Penyebab gerakan tanah diperkirakan diantaranya kemiringan lereng yang terjal, tanah lapukan yang tebal, gembur dan sarang serta mudah menyerap air, serta dipicu oleh curah hujan yang tinggi dan dipicu oleh curah hujan yang tinggi dengan durasi yang cukup lama di sekitar daerah bencana. 
Dampak : Gerakan tanah / tanah longsor   menyebabkan talut rusak menimpa 1 (satu) rumah yang di bawahnya dan 1 (satu) orang luka-luka di Kabupaten Boyolali, Provinsi Jawa Tengah;  jalan terputus dan satu unit kendaraan bersama pengemudinya  (luka-luka) terjatuh ke bawah bagian Oprit di Kabupaten Lebak, Provinsi Banten; akses jalan terputus di Kabupaten Kuningan, Provinsi Jawa Barat ; 7 bangunan mengalami rusak, 5 bangunan terancam, dan menututp beberapa akses jalan desa di Kabupaten Magelang, Provinsi Jawa Tengah
Peta prakiraan potensi gerakan tanah dari Badan Geologi perlu diacu sebagai peringatan dini.  Masyarakat dapat mengunduh melalui www.vsi.esdm.go.id.


3. Gempa Bumi

*Laporan Harian Tim TD Tsunami Selat Sunda Badan Geologi *=Rabu, 26 Desember 2018=
1. Melakukan diskusi tentang tsunami, gempabumi dan gunungapi Krakatau dgn tim siaga bencana ESDM di posko ESDM di Sumur.
2. Melapor dan Diskusi tentang gempabumi dan tsunami dengan Sekda Kab. Pandeglang.
3. Melapor dan diskusi tentang tsunami dan gempabumi dgn Ka BNPB di Posko BNPB di kec. Sumur.
4. Melakukan sosialisasi dan diskusi tentang gempa bumi dan tsunami dengan masyarakat : Kp Legon, Sumberjaya, Sumur; dan Ds Tangkilsari, Cimanggu.
5.  Melakukan pemeriksaan dan pengukuran landaan tsunami di Kec Cigeulis, Cimanggu dan Sumur dengan hasil sebagai:Ds Banyuasih, kec Cigeulis : Flow Depth (FD) 320 cm dan 240 cm, Run up distance (RD) 274  m.Objek wisata waterboom Citiih : FD 170 cm,  RD 191 m.Ds Tangkilsari, kec Cimanggu: RD 213 m dan  142 m.Kp Legon, Sumberjaya, kec Sumur: FD 328 cm, RD 144 m dan 167 m.Kp Basisir, Sumberjaya, Kec Sumur FD 333 cm.Kp Sumur, Sumberjaya, kec Sumur FD 390 cm.Kota kec Sumur RD 244 m.
6. Jumlah korban  meninggal di Kec.Sumur 64 org. Akses ke Kec. Cimanggu, Cigeulis dan Sumur tidak bisa ditempuh lewat jalan pantai karena rusak dan ada jembatan putus oleh tsunami. TIm Badan Geologi menempuh lokasi tersebut melalui daerah Cibaliung dan daerah gunung dengan kondisi jalan rusak dan berlubang, serta waktu tempuh dari Labuan sekitar 4,5 jam. 

PVMBG, BADAN GEOLOGI, KESDM;
27 Desember 2018


Kasbani


Berita Terkini]]>
rivalz.m.hxh@gmail.com (Admin) Berita Terkini Thu, 27 Dec 2018 11:11:14 +0000